NASEHAT BAGI DIRI YANG MELEBUR
Ketahuilah bahwa tidak ada perkara
yang menakutkan bagi manusia kecuali kematian. Maka patut baginya untuk tidak
terlalu bersenang-senang dalam hidup. Ia harus selalu memikirkan, merenungkan
dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangannya.
Sebagian orang bijak berkata, “kamu tidak
akan dapat mengetahui kapan musibah yang menimpa orang lain akan menimpamu”.
Luqman pernah berkata kepada
anaknya, “ada perkara yang tidak kamu
ketahui kapan ia akan datang kepadamu. Oleh karenanya, bersiaplah sebelum ia
datang mengejutkanmu. Anehnya, ketika seseorang mengetahui bahwa sekompi
tentara akan datang kepadanya untuk memukulnya dengan lima pukulan, ia akan
merasa was-was dan mengkhawatirkan nasibnya sepanjang waktu. Namun ketika yang
akan datang adalah malaikat maut, bagaimana ia tidak merasa was-was akan nasib
dirinya?”
Ketahuilah bahwa rasa sakit ketika
sakaratul maut menjemput hanya dapat diketahui oleh orang yang merasakannya.
Sedangkan orang yang belum merasakannya, hanya dapat menganalogikan saja dengan
membandingkan rasa sakit yang biasa kita rasakan, atau dengan menyaksikan orang
yang sedang menghadapi sakaratul maut.
Analoginya: rasa sakit yang biasa
tidak akan dirasakan roh kecuali hanya sebagian kecil saja. Lain halnya dengan
rasa sakit ketika nyawa dicabut. Saat itu, di samping roh merasakan sakit,
sekujur tubuh juga merasakan sakit yang sangat luar biasa yang belum pernah
dirasakan sebelumnya. Bukankah engkau tahu, ketika api ditempelkan ke luka yang
ada pada tubuh, maka rasa sakit pada luka itu akan semakin bertambah? Itu
disebabkan roh juga ikut merasakannya.
Ketika seseorang mengalami sakratul
maut, teriakan dan suaranya akan tersendat-sendat disebabkan rasa sakit yang
begitu dahsyat yang telah menjalar ke hati dan bersemayam disekujur tubuh
sehingga melemahkan seluruh kekuatannya, dan pada akhirnya ia tidak mampu lagi
untuk memohon pertolongan. Saat itu, kemampuan akal telah lumpuh dan
kacau-balau, lidah menjadi kelu dan kaku, sedangkan seluruh organ tubuh menjadi
lemah terkulai. Seandainya ia bisa beristirahat, berteriak dan meminta
perlindungan, pastilah akan ia lakukan. Namun ia tidak sanggup melakukannya.
Jikalau masih ada kekuatan yang tersisa dalam dirinya, maka itu hanya dapat digunakan
untuk mendengar suara tersengal-sengal dari kerongkongannya. Sedangkan dadanya
telah berubah warna dan terbujur kaku, sehingga seakan-akan muncul darinya debu
yang merupakan bahan asal penciptaannya. Lalu mulailah roh dicabut dari seluruh
persediannya. Kemudian semua anggota tubuh menjadi mati perlahan-lahan.
Pertama-tama, kedua kakinya menjadi dingin, lalu betis dan pahanya. Seluruh
anggota tubuh menghadapi masa kritis dan kebingungan yang luar biasa hingga roh
sampai ke tenggorokan. Ketika itu, terputuslah pandangannya dari dunia dan penghuninya,
serta ditutuplah pintu taubat baginya. Sebagaimana yang tersirat dalam hadist
Nabi Muhammad Saw., “taubat seorang hamba masih akan diterima selagi nyawanya
belum sampai ke tenggorokan.”[1]
Diriwayatkan dari al-Hasan: suatu
hari Nabi Saw., bercerita tentang kematian, kesulitan dan rasa sakitnya. Lalu
beliau berkata. “rasa sakitnya kira-kira sama dengan tiga ratus kali tusukan
pedang.”[2]
Nabi Muhammad Saw., bersabda, “Hadiah bagi seorang mukmin adalah, kematian
itu.” Beliau bersabda dengan sabda Rasulullah itu tidak lain karena dunia
merupakan penjara bagi orang mukmin. Sebab tidak henti-hentinya dia menghadapi
kesulitan di sana, dia harus menghadapi nafsunya, mengekang keinginannya, dan
menolak setannya. Lalu kematian membebaskannya dari siksaan ini. Pembebasan
adalah suatu hadiah (anugerah) baginya.
Nabi Muhammad Saw., bersabda, “kematian dapat melebur dosa bagi setiap
orang islam.” Maksud beliau dengan orang islam di sini adalah orang islam
sejati dan orang mukmin yang benar, yaitu orang yang semua orang islam selamat
dari lidah dan tangannya yang nyata di dalam dirinya sifat-sifat orang mukmin
dan tidak kotor dengan maksiat-maksiat kecuali kesalahan-kesalahan kecil dan
dosa-dosa kecil pula. Jadi kematian akan menyucikannya dari dosa-dosa itu dan
meleburnya setelah dia menjauhkan dosa-dosa besar dan melaksanakan
kewajiban-kewajiban.[3]
Diceritakan bahwa Ibrahim Az-Zayyat
ra, jika melihat seseorang sedang menangisi jenazah, beliau berkata kepada
orang itu: “Tangisilah dirimu sendiri
wahai saudaraku, dan kasihanilah dirimu sendiri, karena sesungguhnya mayyit ini
telah selamat dari tiga hal: mayyit ini telah melihat malaikat maut, telah
merasakan panasnya kematian, serta selamat daripada meninggal dalam keadaan
jelek, berbeda denganmu (yang belum selamat
dari hal itu semua).”[4]
Barang siapa yang perhatian kepada
orang-orang yang telah meninggal dengan cara membacakan zikir dan menghadiahkan
pahala sedekah dan bacaan Al-Qur’annya untuk mereka, maka Allah akan
menakdirkan untuknya orang yang akan memperhatikannya setelah dia meninggal.
Yahya bin Muaz berkata: “Ada dua
musibah yang dimiliki oleh seorang hamba pada hartanya ketika dia meninggal
dunia yang belum terdengar oleh orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan
datang”. Lalu ada yang bertanya: “Apakah dua musibah itu?”. Yahya bin Muadz
menjawab: “Hartanya akan diambil semuanya (oleh para pewaris), dan dia akan
ditanya tentang semua hartanya (oleh Allah)”.[5]
Adapun perumpamaan iman di antara
roh dan jasad, adalah seperti matahari di antara langit dan bumi. Apabila seseorang
mati, maka pergilah ‘Laa ilaaha illallah’ bersama rohnya, sedang ‘Muhammadur
Rasulullah’ tertinggal bersama jasadnya. Sedang bila keduanya berkumpul, maka
menjadi iman.[6]
[3]Imam al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub Di Balik Ketajaman Mata
Hati, terj. Mahfudli Sahli (Jakarta: Pustaka Amani, 2007), 211.


Komentar
Posting Komentar