Al-Qur'an sebagai pemikir dalam Mukjizat terbesar

 

I’jazul Qur’an

Arti I’jaz ialah melemahkan. Yaitu lemah orang buat meniru atau menyamai, apa lagi menandingi dan melebihinya. Sebab itu samalah pendapat ulama-ulama ahli bahasa dan sastra, bahwasanya al-qur’an ini adalah mukjizat bagi Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana Nabi Musa AS ada mukjizat membelah laut dengan tongkat, bagi Nabi Isa AS ada mukjizat menyembuhkan orang sakit lepra hanya semata-mata dengan menyentuhnya.

Maka timbullah pertanyaan orang, mengapa mukjizat Nabi Muhammad hanya al-qur’an yang dibaca, atau satu kitab yang dipelajari, bukan sebagai mukjizat yang mengagumkan akal? Mengapa tidak tongkat sebagai yang ada pada Nabi Musa? Mengapa tidak api yang tidak menghangusi sebagai mukjizat Nabi Ibrahim? Atau sebagai Isa menyembuhkan orang buta dan orang sakit lepra itu?

Di zaman kita inipun masih ada orang yang bertanya-tanya demikian, dan orang-orang musyrikin di mekkah dahulupun pernah meminta supaya Nabi Muhammad Saw menunjukkan sesuatu mukjizat, misalnya bukit shafa menjadi emas, atau beliau sendiri mempunyai rumah dari emas, dan beberapa permintaan yang lain, sebagaimana kelak akan tersebut di dalam surat 17 al-isra, ayat 93 dan beberapa ayat pada surat lain. Tetapi permintaan mereka itu tidak dikabulkan Allah atau tidak memandang itu lebih penting dari pada mukjizat al-qur’an. Beberapa hadist shahih telah diriwayatkan oleh sahabat-sahabat beliau, bahwa beliau pun pernah mempertunjukkan mukjizat yang aneh-aneh dan ganjil, misalnya keluar air yang diminum oleh 1.200 orang dari dalam timba beliau yang kecil di Hudaibiyah, atau hujan lebat di sekitar kemah tentara saja dan tidak turun di tempat lain sehingga dapat semuanya menampung air, yang banyaknya 30.000 orang dalam perjalanan ke peperangan Tabuk dan beberapa mukjizat yang lain. Tetapi mukjizat-mukjizat yang demikian tidaklah beliau jadikan tantangan kepada kaum musyrikin. Beliau menantang lawan hayalah dengan mukjizat al-qur’an. Dengan al-qur’an beliau mengokohkan risalahnya dan dengan al-qur’an beliau menambah ilmu pengikut-pengikut beliau, kaum yang beriman, sampai hari kiamat.

Mukjizat seorang Rasul ataupun Nabi selalu disesuaikan Tuhan dengan zaman hidup Rasul itu sendiri, dan harus sesuai pula dengan macam ragam risalah yang dibawanya. Apabila risalahnya itu adalah risalah yang merata untuk seluruh manusia, yang kekal dan tidak akan berubah lagi sampai selama-lamanya, hendaklah mukjizatnya itu yang kekal dan merata pula, yang kian mendalam orang berfikir, kian mengaku akan mukjizat itu. Mukjizat itu sekali-kali tidak akan kekal, kalau dia hanya merupakan suatu kejadian yang dapat dilihat mata di suatu masa. Sebab apabila Rasul yang membawa mukjizat itu telah berpulang ke Rahmatullah, mukjizat itu tidak akan bertemu lagi. Dan ada pula suatu kejadian yang dipandang mukjizat di zaman hidup Nabi yang bersangkutan, namun setelah beberapa abad ke belakang, keanehan mukjizat itu tidak ada lagi karena kemajuan ilmu pengetahuan. Sebab itu maka mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad bukanlah mukjizat untuk dilihat mata dan pancaindera (hissi), tetapi untuk dilihat hati dan meminta pemikiran (ma’nawi).

Mukjizat yang hissi telah habis pengaruhnya dengan habis zamannya, mukjizat Musa dan Isa hanya dilihat oleh manusia yang sezaman dengan beliau. Orang Yogi yang kuat mengadakan pertapaan sudah bias berjalan di atas api yang tengah menyala, sehingga mukjizat Nabi Ibrahim sudah hampir disamai. Kemajuan ilmu kedokteran di zaman sekarang telah memungkinkan sembuhnya penyakit-penyakit hebat sebagai yang telah disembuhkan oleh jamahan tangan Nabi Isa. Sudah ada pula orang yang memperkirakan bahwa terbelah laut di zaman Nabi Musa adalah lantaran pasang yang selalu sangat surut.

Sedangkan mukjizat Nabi Muhammad Saw sendiri tentang Isra dan Mi’raj masih juga menjadi pertikaian paham di antara ulama-ulama islam sendiri sejak lagi di zaman sahabat., apakah beliau itu Isra dan Mi’raj dengan tubuh dan nyawa beliau atau hanya nyawa saja. Aliran yang dua itu tetap ada, yang berarti bahwa bagi golongan kepercayaan dengan nyawa saja, urusan Isra dan Mi’raj dengan sendirinya tidak begitu hebat lagi. Dan tidak pula mereka kafir kalau mereka berpendapat begitu.

Lantaran itu dapatlah kita berkata bahwasanya mukjizat segala Nabi dan Rasul, dan mukjizat Nabi Muhammad Saw yang selain dari al-qur’an, adalah hal nyata yang dapat dilihat mata, yang habis dengan sendirinya setelah lewat zamannya. Tetapi Mukjizat Nabi Muhammad Saw yang bernama al-qur’an ini adalah mukjizat untuk seluruh masa dan bangsa, yang datang setelah akal dan kecerdasan manusia sudah lebih tinggi daripada zaman purbakala yang telah dilaluinya itu. Tegasnya, dahulu mukjizat untuk dilihat mata, sekarang mukjizat al-qur’an untuk dilihat akal. Akal dari seluruh manusia, turunan demi turunan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENJELASAN TAREKAT DAN TAWAJJUH

MENGENAL FILSUF MULLA SHADRA BIOGRAFI, PEMIKIRAN DAN KARYA-KARYANYA

IBNU ARABI ( Tinjauan Historis, Teologis dan Filosofis)