Tangisan Seluruh Alam Semesta

 

Detik-detik mengharukan menjelang

Wafatnya Rasulullah Saw



 

 

   Pada hari jum’at, ketika haji Wada’ Rasulullah Saw sedang melakukan wukuf di arafah turunlah surat Al-Maidah Ayat 3 sebagaimana artinya; Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

  Dan setelah ayat ini tidak lagi turun ayat tentang kewajiban. Ketika turun ayat ini Nabi Muhammad Saw merasa tidak kuat menanggung arti ayat tersebut. Beliau bersandar pada untanya dan untanya tertunduk. Kemudian turunlah Malaikat Jibril seraya berkata: “Ya Muhammad, benar-benar telah sempurna hari ini perihal agamamu dan telah selesai apa yang telah diperintahkan Tuhanmu kepadamu, dan apa yang dilarangNya padamu. Kumpulkanlah sahabat-sahabatmu dan kabarkan pada mereka bahwa aku tidak akan lagi turun kepadamu setelah hari ini.” Lalu kembalilah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah.

  Dikumpulkannya lah sahabat-sahabatnya dan dibacakannya ayat tersebut kepada mereka serta menceritakan kepada mereka. Tentang apa yang di katakana oleh Jibril AS. Mendengar berita tersebut bergembiralah para sahabat dan mereka berkata:  “Telah sempurna Agama kita” kecuali Abu Bakar Ra. Dia sangat bersedih dan kembali kerumahnya. Dia mengunci pintu dan tenggelam dalam tangisnya siang malam. Para sahabat mendengar keadaan Abu Bakar itu, mereka berkumpul dan mendatangi rumah Abu Bakar Ra.

  Mereka kemudian bertanya: “Hai, Abu Bakar, ada apa dengan engkau menangis pada saat kita harus bergembira dan senang? Karena Allah Swt telah menyempurnakan agama kita.” Kemudian Abu Bakar berkata: “Hai para sahabatku, kamu semua tidak mengetahui bencana yang akan menimpamu. Bukankah kamu mendengar bahwa suatu perkara apabila telah sempurna maka akan muncul kekurangannya? Ayat ini menggambarkan tentang perpisahan kita, tentang keyatiman Hasan dan Husein dan tentang istri-istri Nabi Muhammad Saw yang akan menjadi janda.”  Maka terjadilah teriakan di antara para sahabat, mereka semua menangis, dan sahabat-sahabat lain yang tidak ikut hadir di rumah Abu Bakar mendengar tangisan dari kamar Abu Bakar, lalu mereka datang kepada Nabi Muhammad Saw, dan mereka berkata: “Ya, Rasulullah kami tahu bagaimana keadaan para sahabat itu, hanya saja kami mendengar tangisan dan teriakan mereka.”

  Maka berubahlah wajah mulia Nabi Muhammad Saw, dan berdiri segera menuju rumah Abu Bakar dan bertemu para sahabat. Beliau Saw melihat mereka dalam keadaan menangis, kemudia Beliau Saw bersabda: “Apakah yang membuat kamu menangis? “berkatalah Ali Ra: “Tadi Abu Bakar berkata, Aku telah mencium bau wafatnya Rasulullah Saw, dari ayat ini. Apakah benar ayat ini dapat di ambil sebagai petunjuk atas wafatmu?”.

  Nabi Muhammad Saw bersabda: “Benar Abu Bakar dalam ucapannya itu. Memang benar telah dekat keberangkatanku (wafat) dari hadapanmu dan telah tiba saat perpisahanku pada kalian semua.”

  Setelah Abu Bakar Ra. Mendengar Rasulullah itu berteriaklah dia sekeras-kerasnya dan jatuh tak sadarkan diri (pingsan). Ali Ra. Bergertar tubuhnya dan para sahabat lain menjadi ribut, mereka ketakutan semuanya dan menangis sejadi-jadinya, hingga gunung-gunung dan batu-batu ikut menangis bersama mereka, demikianlah pula para malaikat, ulat-ulat dan binatang-binatang darat maupun di laut, semuanya ikut menangis mendengar kabar tersebut.

  Kemudian Nabi Muhammad Saw, berjabatan dengan para setiap orang dari para sahabatnya, berpamitan dan menangis serta memberi wasiat kepada mereka. Kemudian beliau hidup setelah turunnya ayat tersebut dalam delapan puluh satu hari. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra. Bahwa setelah dekat wafat Nabi Muhammad Saw, beliau memerintahkan bilal untuk menyerukan shalat kepada manusia. Bilal lalu menyerukan Adzan dan berkumpullah para sahabat Muhajirin dan Anshar ke masjid Rasulullah Saw. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat ringan bersama para sahabat, kemudian naik mimbar, memuji dan menyebut keagungan Allah Swt. Beliau berkhutbah dengan sebuah Khutbah yang dalam, hati menjadi takut karenanya, dan air mata bercucuran karenanya.

  Kemudian Beliau bersabda: “Wahai sekalian muslimin, sesungguhnya Aku adalah seorang Nabi kepada kamu, pemberi nasihat dan berda’wah kepada Allah Swt dengan seijin-Nya. Dan aku berlaku kepadamu sebagai seorang saudara yang menyayangi dan sekaligus sebagai ayah yang belas kasih. Barang siapa diantara kamu yang mempunyai suatu penganiayaan pada diriku, maka hendaklah dia berdiri dan membalas kepadaku sebelum datang balas membalas di hari kiamat.”

  Tidak ada seorangpun yang berdiri menghadapnya, sehingga Beliau bersabda demikian kedua kali dan ketiga kalinya. Barulah berdiri seorang laki-laki bernama Ukasyah bin Muhshin. Berdirilah dia didepan Nabi Muhammad Saw, dan berkata: “Demi Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu Ya Rasulullah, seandainya engkau tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali, tentu aku tidak akan mengajukan sesuatu mengenai itu. Sungguh aku pernah bersamamu di perang Badar. Saat itu untaku mendahului untamu. Maka turunlah aku dari unta dan mendekatimu agar aku dapat mencium pahamu. Tetapi engkau lalu mengangkat tongkat yang biasa engkau pergunakan untuk memukul unta agar cepat jalannya dan engkau pukul lambungku. Aku tidak tahu apakah itu atas kesengajaan dirimu atau engkau maksudkan untuk memukul untamu Ya Rasulullah?”.

  Rasulullah kemudian bersabda: “Mohon perlindungan kepada Allah wahai Ukasyah, kalau Rasulullah sengaja memukulmu.” Bersabda lagi Beliau kepada Bilal: “Hai Bilal, berangkatlah ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku.”

  Maka keluarlah Bilal dari Masjid sedang tangannya di atas kepalanya: “Ini adalah Rasulullah, sekarang beliau memberikan dirinya untuk diqishash.”

Dia mengetuk pintu Fatimah, dan bertanyalah Fatimah: “Siapa yang ada di depan pintu?”

Bilal menjawab: “Aku datang untuk mengambil tongkat Rasulullah.”

Fatimah bertanya: ‘Hai Bilal, apa yang akan diperbuat Ayah dengan tongkat itu?”

Bilal menjawab: “Hai Fatimah, Ayahmu memberikan dirinya untuk di qhishash.”

Fatimah bertanya lagi: “Hai Bilal, siapakah yang sampai hatinya mau membalas pada Rasulullah?”

  Lalu Bilal mengambil tongkat itu dan masuklah dia kemasjid serta memberikan tongkat itu kepada Rasulullah, sedang Rasul kemudian menyerahkannya kepada Ukasyah. Ketika Abu Bakar dan Umar Ra. Bedua dan berkata: “Hai Ukasyah, aku masih berada didepanmu, maka balaslah kami dan janganlah engkau membalas kepada Nabi Muhammad Saw.”

  Bersabdalah Rasulullah Saw: “Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukanmu.”

Berdiri pula Ali ra. Dan berkatalah Dia: “Hai Ukasyah, aku masih hidup didepan Nabi Muhammad Saw. Tidak akan aku sampai hati kalau engkau membalas Rasulullah Saw. Ini punggungku dan perutku, balaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tanganmu.”

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Hai Ali, Allah telah mengetahui kedudukan dan niatmu.”

Berdiri pula Hasan dan Husein cucu Nabi Saw dan mereka berkata: “Hai Ukasyah, bukankah engkau mengenal kami berdua. Kami adalah dua orang cucu Rasulullah Saw. Membalas kepada kami adalah sama seperti membalas kepada Rasulullah.”

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Duduklah engkau berdua wahai kegembiraan mataku.”

Kemudian Nabi Muhammad Saw bersabda: “Hai Ukasyah, pukullah kalau engkau mau memukul.”

Ukasyah berkata: “Ya Rasulullah, engkau memukulku dahulu dalam keadaan aku tidak terhalang pakaianku.”

Lalu Rasulullah menyingkapkan pakaiannya, dan berteriaklah orang-orang Islam yang hadir seraya menangis. Ketika melihat putihnya tubuh Rasulullah. Ukasyah menubruknya dan mencium punggungnya. Berkatalah dia: “Nyawaku sebagai tebusanmu Ya Rasulullah, siapakah yang akan sampai hati untuk membalasmu Ya Rasulullah. Aku melakukannya hanya mengharap agar tubuhku dapat menyentuh tubuhmu yang mulia, dan Allah akan memelihara aku berkat kehormatanmu dan di jauhkan dari api neraka.”

  Bersabdalah Rasulullah Saw: “Igat, barang siapa yang ingin melihat penghuni surga maka hendaklah dia melihat orang ini.”

Semua orang Islam yang hadir berdiri, dan mencium antara kedua mata Ukasyah seraya berkata: “Beruntung sekali engkau, engkau berhasil mendapatkan derajat yang tinggi dan berkawan dengan Nabi Muhammad Saw di surga.” Ya Allah, mudahkanlah kepada kami untuk mendapatkan syafa’atnya, berkat keagungan dan kemegahan-Mu.

  Ibnu Mas’ud berkata: “Ketika dekat wafat Nabi Muhammad Saw berkumpullah kami di rumah ibu kita Aisyah. Kemudian Beliau memandang kami dan bercucurlah air matanya. Beliau bersabda: “Marhaban bikum rahimakumullah {selamat datang kamu semua, mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada kamu). Aku berwasiat kepada kamu agar takwa kepada Allah dan taat kepada-Nya. Telah dekat perpisahan dan telah tiba kembali kepada Allah dan ke surga Al-Ma’waa. Hendaklah nanti Ali yang memandikan aku, Al-Fadhl bin Abbas yang menuangkan air dan Usamah bin Zaid yang membantu keduanya. Kafanilah aku dengan pakaian aku sendiri kalau kamu mau, atau dengan pakaian buatan Yaman yang putih. Jika kamu sudah memandikan aku letakkanlah aku di tempat tidurku didalam kamarku ini di tepi liang lahadku. Kemudian keluarlah meninggalkan aku sesaat. Karena pertama-tama yang menshalatkan Aku adalah Allah Azza wa Jalla, kemudian Jibril, kemudian Israfil, kemudian Mika’il, kemudian Malaikat Maut beserta anak buahnya, kemudian semua Malaikat yang lain. Setelah ini barulah kalian masuk sekelompok demi sekelompok dan shalatkanlah aku.” Setelah mereka medengar kata perpisahan Nabi Muhammad Saw ini, mereka (Sahabat) berteriak seraya menangis.

  Mereka berkata: “Ya rasulullah, engkau adalah Rasul kami dan kepala kumpulan kami. Serta penguasa perkara kami. Jika engkau harus pergi, lalu kepada siapakah nanti kami akan kembali dalam menghadapi kesulitan?”

  Nabi Muhammad Saw bersabda: “Aku tinggalkan kamu pada jalan kebenaran dan jalan yang bersinar dan aku tinggalkan untuk kamu dua penasehat: yang berbicara dan yang diam. Yang berbicara adalah Al-Qur’an, sedang yang diam adalah kematian. Apabila ada sebuah kesulitan pada kamu maka kembalilah kepada Al-Qur’an dan sunnah, dan apabila hatimu keras membantu lembutkanlah dia dengan mengambil pelajaran dengan hal ihwal kematian.”

  Detik-detik Rasulullah Saw menjelang sakaratul maut.

        Pagi itu, meski langit telah mulai menguning. Burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al-Qur’an. Barangsiapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

  Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya.Utsman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,”desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

  Matahari kian tinggi, tapi pintu pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk? Tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam, “kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “siapakah itu wahai anakku? “tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya. Kata Fatimah dengan jawaban lembut, lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan, satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.

  “ketahuilah, dialah yang menghapus kenikmatan sementara, dialah yang memisahakan pertemuan di dunia. Dialah Malaikat Maut, “kata Rasulullah.” Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kepada Jibril tak ikut menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah? “Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

  “Pintu-pintu langit telah terbuka lebar, para Malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, “kata Jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini? “Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” jangan khawatir, wahai Rasulullah, Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,”kata Jibril.



  Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Lirih suara Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan jibril membuang muka. “jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril? “Tanya Rasulullah pada malaikat Jibril.

  “Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal, “kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyatnya sakratul maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.

  Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku (peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu). Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

  “Ummati, Ummati, Ummati” (Umatku, Umatku, Umatku) dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.

  Subhanallah ini menunjukkan bahwa begitu cintanya Rasulullah kepada kita, sehingga waktu ajal menimpanya beliau masih saja menyebut-nyebut umatnya. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk selalu bershalawat kepada beliau dan mendapatkan syafaat dari beliau Saw. Aamiin Yaa Rabbal Aalamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENJELASAN TAREKAT DAN TAWAJJUH

MENGENAL FILSUF MULLA SHADRA BIOGRAFI, PEMIKIRAN DAN KARYA-KARYANYA

IBNU ARABI ( Tinjauan Historis, Teologis dan Filosofis)