Sesat pikir hitam dan putih

BLACK AND WHITE FALLACY


(Sesat pikir hitam dan putih)


   Dalam kajian dan diskusi-diskusi Ilmiah kita pasti sering di hadapkan dengan kesimpulan-kesimpulan yang beranekaragam. Kesimpulan-kesimpulan itu dihasilkan melalui argumen-argumen. Argumen melahirkan kesimpulan. Kesimpulan dihasilkan argumen. Begitulah lazimnya diskusi ilmiah yang baik berjalan. Dengan argument yang berbeda-beda, kita bisa menampilkan kesimpulan yang berbeda-beda juga. Namun, di sela-sela penyusunan argument itu, kadang kita terjebak dalam kekeliruan berfikir. Salah satu kekeliruan berfikir yang kerap terjadi ialah, manakala kita dihadapkan dengan banyak pilihan, sementara kita hanya mendasarkan argument kita, atau konklusi dari argument yang kita buat, pada dua pilihan saja.



   Orang Sunni misalnya, mengklaim bahwa madzhab yang benar, dan yang paling layak diikuti, sekaligus yang akan mengantarkan orang islam menuju surga, dari sekian banyak madzhab dalam islam, itu ialah madzhab Ahlussunnah. Dengan begitu, kalau kita ingin menjadi orang islam yang benar, dan ingin masuk surga, maka kita harus menjadi seorang sunni. Karena ketika itu kita hanya dihadapkan dengan dua pilihan saja. Satu, menjadi orang sunni, dan dengan begitu kita akan menjadi orang islam yang benar dan masuk surga. Dua, menganut madzhab lain selain sunni, dan ketika itu kita akan menjadi orang yang sesat, dan pada akhirnya kita akan masuk meraka. Wal’iyadzu Billah.

  Tapi, pertanyaannya, apakah benar kita hanya dihadapkan dengan dua pilihan itu saja? Jelas, bagi orang yang objektif dan cermat, jawabannya adalah tidak. Kebenaran terlalu mahal untuk teringkus dalam satu madzhab saja. Surga terlalu luas untuk dihuni oleh kelompok semata. Orang Syiah juga, selama berpendapat moderat, memiliki potensi yang sama untuk menjemput kebenaran itu. Tapi kita hanya membatasi pilihan pada dua hal itu saja. Padahal di sana juga ada pilihan yang lain. Ini namanya black and white fallacy (sesat pikir hitam putih). Dinamai demikian, karena cara berpikir seperti ini terkesan menyempitkan pilihan. Seolah-olah pilihan yang tersaji hanya “hitam” dan “putih” saja. Padahal di luar sana ada banyak “warna-warna” yang lain.

Contoh lain: saya mengklaim bahwa massifnya gerakan membaca merupakan satu-satunya faktor utama di balik kemajuan bangsa. Dan dalam saat yang sama saya mengklaim bahwa bangsa yang minim membaca tidak akan pernah maju selama-lamanya. Dengan demikian, kita, dalam pandangan saya, hanya di hadapkan dengan dua pilihan saja. Satu, memperbanyak membaca, dan kita akan tertinggal. Pertanyaan: apakah benar kita hanya dihadapkan dengan dua pilihan itu saja? Sebenarnya tidak juga. Membaca itu hanya salah satu dari sekian banyak faktor kemajuan yang ada, tapi bukan satu-satunya.

  Bangsa yang tidak banyak membaca belum tentu bisa tertinggal. Sebagaimana bangsa yang rajin membaca belum tentu maju juga. Kenapa bisa begitu? Karena membaca bukan satu-satunya faktor utama. Sekarang bagaimana kalau ada orang rajin membaca, tapi dia tidak mau berusaha dan mengamalkan bacaan? Betapapun rajinnya, orang seperti itu tak akan banyak memberikan perubahan apa-apa. Pembacaan yang berdampak adalah pembacaan yang disertai dengan kesungguhan dan pengamalan yang nyata atas bacaan yang dibaca. Kalau tidak disertai pengamalan, dan tidak disertai kesungguhan, setinggi apapun bacaan tentu tidak akan berguna.

  Terlihat bahwa, kalau kit abaca secara teliti, dua pilihan di atas tidak sepenuhnya kita sepakati. Karena bisa jadi ada bangsa yang rajin membaca tapi tetap tertinggal, karena mereka tidak mengamalkan apa yang mereka baca. Sebagaimana bangsa yang tidak begitu rajin membaca bisa saja meraih kemajuan. Kalau mereka mengamalkan apa yang mereka baca, walaupun sedikit, dan dalam saat yang sama pengamalan mereka disertai dengan kesungguhan, ketulusan dan kejujuran.itu bisa saja terjadi. Karena itu kita tidak bisa membatasi pilihan hanya pada dua poin itu saja.

Contoh terakhir: memakai jilbab misalnya, dalam pandangan si A, hukumnya wajib. Karena itu mau tidak mau dia harus dikenakan oleh semua perempuan muslimah. Menanggalkan jilbab sama saja dengan mendekatkan diri pada pintu perzinahan. Dengan demikian, dalam konteks jilbab, kita hanya dihadapkan dengan dua pilihan saja. Satu, mengenakan jilbab sebagai sebuah kewajiban, dan ketika itu pintu perzinahan akan tertutup rapat. Dua, tidak mengenakan jilbab karena bukan kewajiban, dan ketika itu pintu perzinahan akan terbuka lebar. Sepintas boleh jadi ada orang yang mengiyakan dua pilihan itu. Tapi, kalau kita amati secara cermat, jelas bahwa pembatasan pada dua pilihan itu sangatlah keliru.

  Apakah benar kalau orang berjilbab akan jauh dari perzinahan? Belum tentu. Kalau dia tetap mengenakan pakaian seksi, wangi-wangian yang mencolok, berdua-duaan dengan laki-laki di tempat tertutup, tetap saja pintu perzinahan akan terbuka bagi dirinya. Apakah kalau orang tidak berjilbab akan dekat dengan perzinahan? Belum tentu juga. Kalau dia bisa menjaga diri, menghindari berdua-duaan dengan laki-laki, berpakaian terhormat, dan tidak mengumbar keseksian tubuh. Bisa jadi dia terhindar dari kemungkinan buruk itu. Dengan demikian, pilihan kita tidak hanya terbatas pada dua poin itu saja. Bisa jadi ada perempuan berjilbab tapi dia melakukan zina. Bisa jadi ada perempuan tidak berjilbab tapi dia tidak melakukan perbuatan keji itu. Mengapa demikian? Karena jilbab bukan satu-satunya faktor utama untuk menentukan orang berzinah atau tidak. Zina itu banyak sebanyaknya. Bukan hanya jilbab saja.

  Nah inilah yang disebut dengan black and white fallacy (sesat pikir hitam dan putih). Kita hanya mendasarkan argument kita, atau hasil dari argument tersebut, pada dua pilihan, padahal di luar sana ada juga pilihan-pilihan yang lain selain dua pilihan yang kita sebut itu. Kita hanya menyajikan pilihan hitam dan putih. Padahal di luar sana ada banyak warna-warna lain selain kedua warna itu. Tentu, kekeliruan seperti ini terlahir dari kekurang cermatan kita dalam membaca masalah secara cermat dan menyeluruh, niscaya kita akan terhindar dari kekeliruan ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENJELASAN TAREKAT DAN TAWAJJUH

MENGENAL FILSUF MULLA SHADRA BIOGRAFI, PEMIKIRAN DAN KARYA-KARYANYA

IBNU ARABI ( Tinjauan Historis, Teologis dan Filosofis)