Sesat pikir hitam dan putih
BLACK AND WHITE FALLACY

Tapi, pertanyaannya, apakah benar kita hanya
dihadapkan dengan dua pilihan itu saja? Jelas, bagi orang yang objektif dan
cermat, jawabannya adalah tidak. Kebenaran terlalu mahal untuk teringkus dalam
satu madzhab saja. Surga terlalu luas untuk dihuni oleh kelompok semata. Orang
Syiah juga, selama berpendapat moderat, memiliki potensi yang sama untuk menjemput
kebenaran itu. Tapi kita hanya membatasi pilihan pada dua hal itu saja. Padahal
di sana juga ada pilihan yang lain. Ini namanya black and white fallacy (sesat pikir hitam putih). Dinamai
demikian, karena cara berpikir seperti ini terkesan menyempitkan pilihan.
Seolah-olah pilihan yang tersaji hanya “hitam” dan “putih” saja. Padahal di
luar sana ada banyak “warna-warna” yang lain.
Contoh lain:
saya mengklaim bahwa massifnya gerakan membaca merupakan satu-satunya faktor
utama di balik kemajuan bangsa. Dan dalam saat yang sama saya mengklaim bahwa
bangsa yang minim membaca tidak akan pernah maju selama-lamanya. Dengan
demikian, kita, dalam pandangan saya, hanya di hadapkan dengan dua pilihan
saja. Satu, memperbanyak membaca, dan kita akan tertinggal. Pertanyaan: apakah
benar kita hanya dihadapkan dengan dua pilihan itu saja? Sebenarnya tidak juga.
Membaca itu hanya salah satu dari sekian banyak faktor kemajuan yang ada, tapi
bukan satu-satunya.
Bangsa yang tidak banyak membaca belum tentu
bisa tertinggal. Sebagaimana bangsa yang rajin membaca belum tentu maju juga.
Kenapa bisa begitu? Karena membaca bukan satu-satunya faktor utama. Sekarang
bagaimana kalau ada orang rajin membaca, tapi dia tidak mau berusaha dan
mengamalkan bacaan? Betapapun rajinnya, orang seperti itu tak akan banyak
memberikan perubahan apa-apa. Pembacaan yang berdampak adalah pembacaan yang
disertai dengan kesungguhan dan pengamalan yang nyata atas bacaan yang dibaca.
Kalau tidak disertai pengamalan, dan tidak disertai kesungguhan, setinggi
apapun bacaan tentu tidak akan berguna.
Terlihat bahwa, kalau kit abaca secara
teliti, dua pilihan di atas tidak sepenuhnya kita sepakati. Karena bisa jadi
ada bangsa yang rajin membaca tapi tetap tertinggal, karena mereka tidak
mengamalkan apa yang mereka baca. Sebagaimana bangsa yang tidak begitu rajin
membaca bisa saja meraih kemajuan. Kalau mereka mengamalkan apa yang mereka
baca, walaupun sedikit, dan dalam saat yang sama pengamalan mereka disertai
dengan kesungguhan, ketulusan dan kejujuran.itu bisa saja terjadi. Karena itu
kita tidak bisa membatasi pilihan hanya pada dua poin itu saja.
Contoh terakhir:
memakai jilbab misalnya, dalam pandangan si A, hukumnya wajib. Karena itu mau
tidak mau dia harus dikenakan oleh semua perempuan muslimah. Menanggalkan
jilbab sama saja dengan mendekatkan diri pada pintu perzinahan. Dengan
demikian, dalam konteks jilbab, kita hanya dihadapkan dengan dua pilihan saja.
Satu, mengenakan jilbab sebagai sebuah kewajiban, dan ketika itu pintu
perzinahan akan tertutup rapat. Dua, tidak mengenakan jilbab karena bukan
kewajiban, dan ketika itu pintu perzinahan akan terbuka lebar. Sepintas boleh
jadi ada orang yang mengiyakan dua pilihan itu. Tapi, kalau kita amati secara
cermat, jelas bahwa pembatasan pada dua pilihan itu sangatlah keliru.
Apakah benar kalau orang berjilbab akan jauh
dari perzinahan? Belum tentu. Kalau dia tetap mengenakan pakaian seksi,
wangi-wangian yang mencolok, berdua-duaan dengan laki-laki di tempat tertutup,
tetap saja pintu perzinahan akan terbuka bagi dirinya. Apakah kalau orang tidak
berjilbab akan dekat dengan perzinahan? Belum tentu juga. Kalau dia bisa
menjaga diri, menghindari berdua-duaan dengan laki-laki, berpakaian terhormat,
dan tidak mengumbar keseksian tubuh. Bisa jadi dia terhindar dari kemungkinan
buruk itu. Dengan demikian, pilihan kita tidak hanya terbatas pada dua poin itu
saja. Bisa jadi ada perempuan berjilbab tapi dia melakukan zina. Bisa jadi ada
perempuan tidak berjilbab tapi dia tidak melakukan perbuatan keji itu. Mengapa
demikian? Karena jilbab bukan satu-satunya faktor utama untuk menentukan orang
berzinah atau tidak. Zina itu banyak sebanyaknya. Bukan hanya jilbab saja.
Nah inilah yang disebut dengan black and
white fallacy (sesat pikir hitam dan putih). Kita hanya mendasarkan argument
kita, atau hasil dari argument tersebut, pada dua pilihan, padahal di luar sana
ada juga pilihan-pilihan yang lain selain dua pilihan yang kita sebut itu. Kita
hanya menyajikan pilihan hitam dan putih. Padahal di luar sana ada banyak
warna-warna lain selain kedua warna itu. Tentu, kekeliruan seperti ini terlahir
dari kekurang cermatan kita dalam membaca masalah secara cermat dan menyeluruh,
niscaya kita akan terhindar dari kekeliruan ini.

Komentar
Posting Komentar