Mengenal sosok sang Fakhrul Wujud
(sang kebanggaan Ummat)
Segala puji bagi Allah, Dia telah membuka
semua misteri kerinduan dalam pandangan-pandangan Ruhaniyah dengan kunci-kunci
persaksian secara khusus, melalui kekuatan rabithah hati keikhlasan hasrat
serta kesucian niat. Tak ada satu makhluk yang terlepas dari pengawasan-Nya
walau sesaat, ia adalah tujuan bagi mereka yang menggunakan akal dan ia pula
yang memberi pahala bagi setiap perbuatan.
Shalawat dan salam bagi junjungan kita, yang
karenanya dunia diciptakan, yang karenanya semua alam dibentuk, dia adalah
peraih peringkat kesempurnaan, padanya terletak segala kebaikan, ia adalah
kekasih sang Khaliq, ia di ciptakan dari Nur-Nya. Salam sejahtera baginya dan
para keluarganya juga para pecinta mereka, salam yang berkesinambungan hingga
hari di mana para pecinta dikumpulkan dengan para kekasihnya.
Sebelumnya izinkan saya sebagai penulis
artikel ini untuk memperkenalkan kepada para pembaca yang baik, bahwa kali ini
saya akan menuliskan selayang pandang sosok anak cucu Nabi Muhammad Saw yang di
kenal oleh seluruh dunia dengan sebutan “Syekh Imam Fakhrul Wujud” semoga
dengan tulisan yang singkat ini akan memberikan manfaat kepada kita semua, dan
kita yang membaca sejarah orang-orang sholeh akan mendapatkan berkah dari
mereka Amin amin Yaa Rabbal Alamin…
·
Nasabnya yang mulia
Beliau adalah yang bernama As-Sayyid
As-Syarif As-Syekh Abu Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin
Abdullah bin Al-Imam Abdurrahman As-segaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali
Shohibud Darak bin Alawi Al-Ghuyur bin Al-Ustadz Al-A’dham Al-Faqih Muqaddam
Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin
Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Al-Muhajir Ilallah Ahmad bin Isa Ar-Rumi
bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Jakfar As-Shadiq bin Muhammad
Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein As-Syahid bin Sayyidina Ali
bin Abi Thalib dan Ibunda Sayyidah Fatimah Az-Zahra Al-Batul binti Rasulullah
Shallahu ‘alaihi wa Sallam.
Adapun Ibunda beliau bernama As-Sayyidah
As-Syarifah Talhah binti Aqil bin Ahmad bin Abu Bakar As-Sakran bin Al-Imam
Abdurrahman As-Segaf, dan terus seperti nasab di atas, begitulah terus kemulian
nasab dan keagungan leluhur yang di miliki Syekh Abu Bakar, Apabila kita tengok
di kitab-kitab manaqib orang-orang sholeh akan kita dapati kakek-kakek beliau
termasuk manusia-manusia agung yang tertulis di dalamnya. Tidaklah cukup pena
ini menggoreskan kemuliaan satu persatu biografi para leluhur Syekh Abu Bakar,
sebab satu orang di antara mereka laksana samudera yang tidak bertepi, tak
mampu seseorang mensifati kemuliaan dan keutamaan mereka di sisi Allah Swt.
·
Kelahiran
Syekh Abu Bakar bin Salim dilahirkan di kota
Tarim pada hari sabtu tanggal 23 Jumadil Awwal tahun 919 H. kelahiran tersebut
sungguh mulia nan agung, kelahiran seorang yang kelak akan mengibarkan
panji-panji Rasulullah Saw di muka bumi ini. Kemuliaan yang di dapatnya tak
lain karena dari doa para leluhurnya. Sebagaimana dikisahkan bahwasanya Al-Habib
Abdullah bin Al-Imam Abdurrahman As-Segaf
kakek ketiga Syekh Abu Bakar bin Salim suatu saat duduk di depan
ayahandanya Al-Imam Abdurrahman As-Segaf yang saat itu di temani dengan
beberapa saudaranya yang lain. Terlintas di hati Al-Habib Abdullah tentang
ketinggian maqam (tingkatan sufi)
saudara-saudaranya dan terkenalnya mereka di hadapan orang-orang, yang tidak
dimiliki oleh dirinya sendiri seperti Syekh Abi Bakar As-Sakran dan Syekh Umar
Muhdor. Tiba-tiba ayahandanya menyingkap apa yang ada di dalam hati beliau
seraya berkata: “sesungguhnya engkau akan terkenal melalui keturunanmu kelak”.
Hal itu tidak lain mengisyaratkan kepada anak cucunya yang akan lahir setelah
empat generasi berikutnya yaitu Syekh Abu Bakar bin Salim.
Kehadiran
Syekh Abu Bakar bin Salim di tahun itu seakan-akan menjadi pengharum bagi kota
tarim yang penuh dengan wali dan orang-orang shaleh. Para pewaris ilmu dan
akhlak yang bersumber dari Nabi SAW sekarang menjadi tampak di mata umat dengan
lahirnya salah satu keturunan Nabi Saw yang luhur ini. Handai tauladan umat
Rasulullah Saw yang tersebar di kota Tarim kini diwarnai dengan lahirnya wujud
yang kelak akan dibanggakan oleh Nabinya.
Pada
hakikatnya sejak dahulu kala banyak para ulama yang mengisyaratkan tentang
Syekh Abu Bakar bin Salim. Beberapa banyak dari mereka yang memberi kabar
gembira tentang keberadaannya kelak di kota Inat yang menjadi kota dakwah
beliau.
Seperti
yang di kisahkan oleh seorang alim yang bernama Al-Habib Ahmad bin Alawi
Al-Majdzub bin Abdurrahman As-Segaf yang pernah memuji Syekh Abu Bakar bin
Salim sebelum kelahirannya. Pada saat itu Al-Habib Ahmad datang ke kota Inat
dar arah barat yang tatkala itu masih banyak pepohonan dan bebatuan yang besar
dan belum begitu banyak penduduk di sana. Lalu beliau berdiri disitu dan
mengatakan: “akan lahir seorang laki-laki yang nantinya memiliki maqam tinggi,
dan akan menempati tempat disini. Di tempat ini adalah masjidnya, dan ia akan
sholat di tempat ini (seraya mengisyaratkan ke beberapa tempat di situ), dan akan
membangun rumahnya di sini.
Setelah
beberapa tahun kemudian lahirlah Syekh Abu Bakar bin Salim, yang kemudian
tumbuh dan membangun masjid serta rumahnya sebagaimana yang di ungkapkan oleh
Al-Habib Ahmad dahulu.
Belum
lagi seorang pemimpin wali di zamannya yang bernama Al-Imam Al-Habib Abu Bakar
Al-Adni bin Abdullah Alydrus yang mengungkapkan tentang dekatnya kelahiran
Syekh Abu Bakar bin Salim, beliau mengisyaratkan dengan syairnya:
“Bulan purnama yang akan menjadi
kebahagiaan umat sudah dekat terbitnya # dan akan segera tampak”
“Apabila sudah tampak, semua
bintang akan mengikutinya # meskipun sedikit demi sedikit”
“Sebuah dahan yang suci asal
muasalnya (leluhur) dan suci pula pohon dan rantingnya (keturunannya) # dan
segera akan berbuah”
Semua pujian di atas
mengisyaratkan tentang dekatnya keberadaan wujud Syekh Abu Bakar bin Salim di
tengah-tengah umat manusia.
Sebagaimana
keterangan para ulama di atas, Syekh Umar bin Abdullah Ba Makhramah juga
mengisyaratkan ketinggian maqam yang di raih Syekh Abu Bakar bin Salim di
masanya. Hal itu terjadi ketika beliau bertemu dengan Syekh Abu Bakar bin Salim
yang saat itu masih kecil berusia sekitar 4 tahun dari perjalanan pulang ziarah
Nabi Hud A.S. tatksala itu Syekh Abu Bakar tengah digendong oleh seorang pembantu
ayahnya yang bernama Ba Qahawil, tiba-tiba Syekh Umar Ba Makhramah mengusap
rambut Syekh Abu Bakar lalu berkata dengan syairnya:
“Wahai pedang emas semoga Allah
dengan perhatiannnya selalu menjagamu # setiap lembah yang besar akan mengalir
di hadapan lembahmu”
Ucapan
di atas tentunya juga menjadi isyarat kepada Syekh Abu Bakar bin Salim tentang
penjagaan Allah yang khusus kepadanya serta keagungan maqamnya di sisi Allah
Swt. Namun hal itu telah di ketahui oleh beliau Syekh Abu Bakar bin Salim
kemudian beliau mengatakan:
“Telah bersinar cahaya bulan
purnamaku di alam semesta # dan telah disebutkan keutamaanku sebelum
kelahiranku”
·
Menuntut Ilmu
Setelah beberapa waktu yang berlalu, kini
beliau pun tumbuh dewasa di bawah didikan sang ayah yang alim dan shaleh serta
keluarga yang penuh cahaya sunnah Nabi. Mulailah Syekh Abu Bakar bin Salim
melangkahkan kakinya di dalam menempuh jalan para pendahulunya. Beliau menuntut
ilmu, mempelajari Al-Qur’an dan menghafalkannya, serta berusaha di dalam
mengulangi pelajarannya. Semua itu dilakukannya agar mendapatkan bagian yang
banyak dari warisan Rasulullah Saw yaitu ilmu. Sebab Nabi tidak mewariskan
kepada umatnya harta ataupun jabatan, akan tetapi Nabi hanya mewariskan ilmu
agama.
Syekh
Abu Bakar bin Salim awal kali beliau pelajari adalah membaca dan menghafalkan
al-qur’an, akan tetapi beliau sempat kesulitan untuk menghafalkan al-qur’an dan
mengingat bacaannya hingga ayah beliau mengeluhkan ini kepada ulama Syekh Imam
Shihabuddin Ahmad bin Abdurrahman bin Ali. Dengan penuh keyakinan Syekh Imam
Shihabuddin mengatakan kepada sang ayah Syekh Abu Bakar: “Biarkan saja anak itu
danjangan memaksanya,,,suatu saat dia akan bisa menghafalkan dengan sendirinya,
dan ia akan memiliki sesuatu yang agung nantinya”.
Benar
saja dengan izin Allah Syekh Abu Bakar bin Salim bisa menghafalan al-qur’an
dalam kurun waktu 4 bulan saja. Hal ini tidak lain karena kelebihan yang sudah
di persiapkan oleh Allah untuk beliau.
Kemudian
juga beliau memperdalam ilmu bahasa Arab dan ilmu agama lainnya ke ulama-ulama
yang terkenal pada saat itu. Syekh Abu Bakar bin Salim juga mempelajari
kitab-kitab ilmu agama yang sudah di pelajari para leluhurnya. Diantara kitab-kitab
yang sudah dipelajarinya yaitu kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali,beliau
sudah membacanya sekitar 40 kali, kitab Minhaj karya Imam Nawawi yang berisi
ilmu fiqih dan dijadikan kitab tingkatan paling tinggi bagi penuntut ilmu, dan
beliau sudah membacanya 3 kali dengan pemahaman yang sempurna, dan kitab
Risalah Al-Qusyairiyah di dalam ilmu tasawwuf, beliau membacanya kepada Syekh
Umar bin Abdullah Ba Makhramah yang dahulu pernah memberinya kabar gembira
sewaktu kecil.
·
Guru-guru Beliau
Adapun
guru-guru Syekh Abu Bakar bin Salim:
1. Al-Imam
Al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Abdurrahman bin Syekh Ali bin Abu Bakar
As-Sakran.
2. Al-Allamah
Al-Habib Ahmad bin Alawi Ba Jahdab Al-Alawi.
3. Al-Allamah
Al-Faqih Syekh Abdullah bin Muhammad Hakam Sahl Ba Qusyair.
4. Al-Allamah
Al-Qadhi Al-Habib Ahmad Syarif bin Alawi Al-Khirid.
5. Al-Allamah
Al-Faqih Syekh Umar bin Abdullah Ba Makhramah.
6. Al-Allamah
Al-Habib Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar Ba Syaiban bin Muhammad
Asadullah bin Hasan bin Ali bin Faqih Muqaddam.
7. Al-Allamah
As-Syekh Abul Hasan Muhammad bin Muhammad Al-Bakri.
8. Al-Allamah
Syekh Abu Muhammad Ma’ruf bin Abdullah Ba Jammal As-Syibami.
·
Pengambilan Sanad Tasawwuf.
Sekilas
tentang Thariqah Tasawwuf Bani Alawiy.
Thariqah berarti jalan, tata cara dan
metode ibadah yang dilakukan oleh para ulama di dalam mendekatkan diri kepada
Allah Swt. Jalan dan tata cara tersebut memiliki mata rantai yang menyambung
kepada Rasulullah Saw yang nantinya akan terwariskan kepada generasi
selanjutnya. Hal ini bertujuan agar seseorang mukmin memiliki ikatan yang kuat
dengan para ulama di dalam mendekatkan dirinya kepada Allah Swt melalui
Thariqah tersebut.
Adapun
Bani Alawiy adalah mereka para keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib secara
umum. Sedangkan secara khusus adalah keturunan Alawiy bin Ubaidillah bin Ahmad
Al-Muhajir yang akhirnya juga nyambung kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dari
keturunan Sayyidina Husein R.A.
Maka
dinisbatkan nama Thariqah tersebut kepada mereka yaitu Bani Alawiy, sebab para
ulama yang ada di dalam Thariqah tersebut semuanya masih golongan Bani Alawiy
atau keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dan sudah sangat jelas
sekali,bahwa Thariqah yang paling benar dan afdhol adalah Thariqah Bani Alawiy.
Sebab, mata rantai sanad mereka nyambung terus dari orang-orang shaleh sampai
kepada Rasulullah Saw. Adapun para ulamanya adalah orang-orang yang memiliki
nasab kepada Nabi, sehingga kemuliaan dalam Thariqah ini sangat lengkap yaitu
kemuliaan sanad Thariqah yang nyambung kepada Nabi dan kemudian nasab para
ulamanya yang juga menyambung kepada Nabi Saw.
Untuk
mengetahui tentang garis besar di dalam Thariqah ini adalah sebagaimana yang di
sampaikan oleh Al-Habib Abdullah bin Husein bin Thohir, beliau mengatakan:
“Ketahuilah
wahai saudaraku,, bahwa paling benarnya perkataan adalah firman Allah dan
paling baiknya petunjuk adalah petunjuk dari Rasulullah Saw sebagaimana firman
Allah Swt dalam Al-Qur’an:
“Katakanlah wahai
Muhammad..,apabila kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan
mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian..”
Kemudian
Rasulullah Saw bersabda: “Hendaknya
kalian teguh dengan sunnahku (jalanku), dan sunnah Khulafaur Rasyidin (penerus
kekkhalifahan) sepeninggalku nanti.”
Dan
sudah banyak orang yang mengikuti jalan Rasulullah Saw seperti Sayyidina Abu
Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan dan Husein, Fatimah Az-Zahra dan semua
istri-istri Rasulullah yang mulia dan seluruh sahabatnya yang lain.
Dan
segala puji bagi Allah yang telah menjadikan perjalanan hidup kami dan para
leluhur kami demikian. Perjalanan hidup orang tua kami, kakek-kakek kami, dan
para pendahulu kami dari Bani Alawiy mereka semua berada di Akidah yang benar
nan jalan yang lurus.
Hal
itu semenjak dahulu ketika baginda Rasulullah Saw mengajarkan dan mendidik
keluarganya dengan akidah seperti ini, diantaranya Sayyidina Ali bin Abi
Thalib, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, Sayyidah Fatimah Az-Zahra Al-Batul
beserta kedua puteranya Sayyidina Hasan dan Husein. Mereka memilih jalan dan
Tariqah ini dengan mengambil sanadnya langsung dari Baginda Rasulullah Saw.
Kemudian
Thariqah ini diikuti oleh orang-orang setelahnya. Diambillah sanad Thariqah ini
oleh Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husein, kemudian puteranya Sayyidina
Muhamad Al-Baqir, lalu kepada putranya lagi Sayyidina Jakfar As-Shodiq,
kemudian kepada puteranya Sayyidina Ali Al-Uraidhi, lalu kepada puteranya
Sayyidina Muhammad An-Naqib, kemudian kepada puteranya Sayyidina Isa Ar-Rumi,
lalu kepada puteranya Sayyidina Ahmad bin Isa Al-Muhajir, memudian kepada
puteranya Sayyidina Ubaidillah bin Ahmad, lalu kepada puteranya Sayyidina
Alawiy bin Ubaidillah, kemudian kepada puteranya Sayyidina Muhammad bin Alawiy,
lalu kepada puteranya Sayyidina Alawiy bin Muhammad, kemudian kepada puteranya
Sayyidina Ali bin Alawiy bin Muhammad, kemudian kepada puteranya Sayyidina Ali
bin Alawiy Khali Qasam, lalu kepada puteranya Sayyidina Muhammad bin Ali Shahib
Marbath, kemudian kepada puteranya Sayyidina Ali bin Muhammad ayah Faqih
Muqaddam dan orang-orang yang sezaman dengannya.
Lalu
bersambung terus sanad Thariqah ini kepada puteranya Sayyidina Muhammad bin Ali
yang di kenal dengan Faqih Muqaddam dan orang-orang yang sezaman dengannya,
kemudian kepada puteranya Sayyidina Alawiy bin Faqih Muqaddam, lalu kepada
puteranya Sayyidina Ali bin Alawiy dan orang-orang yang sezaman dengannya,
kemudian kepada puteranya Sayyidina Muhammad bin Ali Mauladdawilah dan
orang-orang yang sezaman dengannya, lalu kepada puteranya Sayyidina Abdurrahman
bin Muhammad As-Segaf dan orang-orang yang sezaman dengannya, kemudian kepada
puteranya Sayyidina Abu Bakar bin Abdurrahman As-Sakran dan orang-orang sezaman
dengannya, lalu kepada puteranya Sayyidina Abdullah bin Abu Bakar Alydrus dan
orang-orang yang sezaman dengannya.
Kemudian
kepada puteranya Sayyidina Abu Bakar bin Abdullah Al-Adni dan Sayyidina
Abdurrahman bin Ali serta orang-orang yang sezaman dengan mereka, lalu kepada
Sayyidina Umar bin Muhammad Ba Syaiban Ba’alawi dan orang-orang yang sezaman
dengannya kemudian kepada Sayyidina
Syekh Abu Bakar Bin Salim Fakhrul Wujud dan orang-orang yang sezaman dengannya,
lalu kepada puteranya Sayyidina Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim , kemudian
kepada Sayyidina Umar bin Abdurrahman Al-Attas , lalu kepada Sayyidina Abdullah
bin Alawi Al-Haddad, lalu kepada Sayyidina Hasan bin Abdullah, lalu kepada
Sayyidina Hamid bin Umar Ba’alawi, kemudian Sayyidina Umar bin Segaf As-Segaf,
hingga seterusnya bersambung dengan orang-orang shaleh dari Bani Alawiy yang
masih ada sampai saat ini.
Maka
di dalam Thariqah mereka ini tidak tercampur dengan kesesatan dan perubahan
yang menyimpang, akan tetapi masih saja Thariqah ini bersih dan suci, lurus nan kuat, agung nan mulia.
Oleh
karena itu, apabila kita menemukan diantara mereka orang-orang yang
melaksanakan kewajiban, menjauhi maksiat dan kemungkaran, dan menghias dirinya
dengan akhlak dan sifat terpuji serta menjauhi akhlak dan sifat tercela niscaya
akan tampak dari diri mereka karomah, terdengar dari mereka hal-hal yang gaib,
dan terjadi luar biasa lainnya meskipun pada hakekatnya karomah itu adalah
keistiqomahan dalam beribadah maka bukanlah ini semua tujuan mereka di dalam
penghambaan dirinya kepada Allah.
Demi
Allah, tidaklah seseorang mencintai mereka kecuali dirinya adalah orang yang
memiliki keimanan yang kuat, dan tidaklah seseorang membenci mereka kecuali
adalah orang yang memiliki sifat munafik. Semoga Allah menganugerahkan
kecintaan kita kepada mereka semua.”
beliau wafat pada hari Ahad tanggal 3 Dzulhijjah tahun 992 H dimakamkan di Inat.


Komentar
Posting Komentar