Cahaya Di atas Kepala
(Rabi’ah Al-Adawiyah)
Rabi’ah Al-Adawiyah merupakan seorang
Sulthonah sufi perempuan di zamannya yang cukup tersohor dari Bashrah. Hampir
bisa dipastikan bahwa beliau adalah satu-satunya wanita di tengah tokoh-tokoh
sufi yang di dominasi oleh kaum lelaki bahkan dalam sebuah riwayat bahwasannya
Rabi’ah melampaui kedudukan para wali besar pada masa itu. Beliau lahir dari
keluarga miskin dan shaleh. Bahkan, ketika Rabi’ah lahir rumahnya dalam keadaan
gelap gulita karena tak memiliki minyak untuk menyalakan lampu. Namun, setelah
beliau dewasa, justru beliau pembawa cahaya tujuh puluh ribu umat islam.
Hal
itu sesuai pesan dari Rasulullah Saw yang di dengar oleh ayah Rabi’ah dalam
mimpinya. Tatkala Rabi’ah lahir, ibu Rabi’ah meminta suaminya agar meminta
minyak kepada tetangga sebelah untuk dapat menyalakan lampu.kemudian Ayah
Rabi’ah pun pergi. Namun, setibahnya ia di depan pintu rumah tetangganya, ia
hanya meletakkan tangannya di daun pintu, tanpa mengetuknya. Kemudian ia
kembali kepada istrinya dan mengatakan, bahwa tetangganya tak mendengar
ketukannya sehingga mereka tak membukakan pintu untuknya.
Sepanjang
malam itu, ayah Rabi’ah duduk bersimpuh dan berdzikir. Kemudian ia tertidur
dalam duduknya. Dalam tidurnya ia melihat Rasulullah Saw datang menghiburnya
seraya berkata: “janganlah bersedih, anak
yang keempatmu yang baru lahir itu kelak akan menjadi ratu di kalangan para
wanita. Ia akan menjadi pembimbing atas tujuh puluh ribu umatku”.
Selanjutnya,
Rasulullah Saw memberikan sebuah perintah kepada ayah Rabi’ah. “besok pagi,
pergilah engkau menemui Isa al-Zadan, gubernur Bashrah. Tulislah kalimat ini di
atas selembar kertas dan serahkan kepadanya. “setiap malam engkau mengirimiku seratus shalawat dan malam jum’at
empat ratus shalawat. Malam jum’at tadi, engkau telah melupakanku. Maka, untuk
menebusnya, berikan empat ratus dinar yang engkau peroleh secara halal kepada
lelaki ini”. Demikian pesan Rasulullah Saw di dalam mimpi ayah Rabi’ah.
Pada
saat itu, ia pun terbangun dari tidurnya. Ia menangis haru dan menuliskan
kalimat itu untuk gubernur Bashrah seperti yang telah di sabdakan Nabi SAW di
dalam mimpinya itu. Ketika pagi tiba, ia pun segera melaksanakan apa yang
menjadi petunjuk Rasulullah di dalam mimpinya, yakni menyampaikan surat itu
kepada gubernur melalui salah seorang pegawai gubernur.
Tatkala
membaca pesan di dalam surat itu, sang gubernur tersentak. Ia berpandangan
bahwa orang yang membawa pesan itu bukanlah orang sembarangan. Maka, Isa
al-Zadan langsung mendatangi ayah Rabi’ah dan menyerahkan uang sejumlah empat
ratus dinar di tambah hadiah sebanyak dua ribu dinar sebagai tanda
kesyukurannya.
Setelah
Rabi’ah melewati masa kanak-kanaknya, kedua orang tuannya wafat. Rabi’ah
berkeinginan untuk mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya. Namun beliau di
perdaya dan di jual di pasar budak dengan harga enam dinar. Selama menjadi
budak, Rabi’ah selalu melewati hari-harinya dengan berpuasa di siang hari dan
beribadah pada malam harinya.
Pada
suatu malam, ketika Rabi’ah tengah sujud di dalam shalatnya, sang majikan
kebetulan tengah terbangun dan melihat Rabi’ah dari jendela kamarnya, merasa
terkejut. Sebab apa yang dilihatnya saat itu benar-benar diluar jangkauan akal
manusia. Ia melihat, di atas kepala Rabi’ah terdapat cahaya misterius yang
menerangi di sekitar ruangan tempat Rabi’ah berada.
Bersama
dengan itu, sang majikan mendengar Rabi’ah bergumam dalam doanya; “Yaa Allah, Engkaulah Yang Maha mengetahui,
bahwa hatiku selalu ingin menjalankan setiap perintah-Mu. Sinar mataku ini
selalu ikhlas menerima setiap keputusan-Mu atas diriku. Jika aku bisa, aku tak
akan menyisakan waktu barang sekejap pun selain untuk mengabdi kepada-Mu. Akan
tetapi, Engkaulah yang meletakan diriku berada dalam kekuasaan seseorang
makhluk-Mu”.
Menyaksikan
kejadian itu, sepanjang malam majikannya tak bisa tidur. Ia menyadari betul,
bahwa budaknya itu bukanlah manusia sembarangan. Keesokan harinya, ia memanggil
Rabi’ah dan memberikan kebebasannya. Hidup memang tak diketahui alurnya.
Sebagaimana
Rabi’ah. Ia lahir dalam kemiskinan, besar dalam dunia perbudakan dan kemudian
memperoleh kecemerlangan dalam hidupnya. Bahkan setelah ia tiada sekali pun,
namanya tetap menjadi spirit bagi
orang-orang yang berusaha mencari kehidupan sejatinya.
Dari Habib Abdurrahman bin Musthafa Al-Idrus
bahwasanya jumlah para wali Allah di setiap masa itu tidaklah berkurang dari
jumlah para Nabi, yaitu: 124.000 wali.
<Kalamul Habib Alawi bin Syihab: 2/373>. Para wali itu terbagi
menjadi tiga: ada wali yang mengetahui bahwasannya dirinya adalah seorang wali
dan diketahui oleh orang-orang, dan ada wali yang orang-orang tahu bahwasanya
dia adalah seorang wali, namun dia sendiri tidak mengetahuinya, dan ada wali
yang dia dan orang-orang lain tidak tahu bahwa dirinya adalah seorang wali. Tetapi,
wali yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang wali itu lebih utama. <Tuhfatul-Ahbab: 223>.
Maka
beruntunglah orang-orang yang dapat mengikuti jejak Rabi’ah Al-Adawiyah,
seorang perempuan yang menjadi penomenal alam semesta yang menjadi para
pemimpin kaum Hawa pada masa yang sudah di tentukan oleh Allah Swt, bahkan
Rabi’ah mengejutkan para tokoh Sufi pada zaman itu, karna kedudukannya yang
sangat tinggi di sisi Allah Swt sangat tinggi dan istimewa. Sungguh jikalau
kita membacakan atau menceritakan jejak orang-orang sholeh kita akan
mendapatkan sebuah keberkahan di dalam hidup kita, apalagi kita dapat mengikuti
jejak mereka dengan istiqomah dan ikhlas dalam setiap perjalanan kehidupan yang
penuh dengan cobaan ini maka Insyaallah kita akan mendapatkan kedudukan yang
mulia juga di sisi Allah Swt. Semoga Allah Swt memberkahi kehidupan kita dan
semoga Allah Swt mengumpulkan kita dengan orang-orang sholeh khususnya dengan
guru-guru kita yang telah mendahului kita Amin Amin Yaa Rabbal Alamin….

Komentar
Posting Komentar