KONSEP-KONSEP KETUHANAN & EKSISTENSI TUHAN DALAM WACANA FILSAFAT


 

DINAMISME.

  Kepercayaan pada adanya Tuhan adalah dasar yang utama sekali dalam faham keagamaan.tiap-tiap agama kecuali Budhisme yang asli dan beberapa agama lain berdasar atas kepercayaan pada sesuatu kekuatan gaib;dan cara hidup tiap-tiap manusia yang percaya pada agama di dunia ini amat rapat hubungannya dengan kepercayaan tersebut.kekuatan gaib itu,kecuali dalam agama-agama yang bersifat primitif,disebut Tuhan.konsep tentang tuhan berbagai rupa.umpamanya orang percaya pada deisme,tetapi tidak pada theisme atau pada pantheisme tetapi tidak pada polytheisme.atau pula orang percaya pada monotheisme tetapi monotheisme manakah yang dianutnya itu.

  Oleh sebab itu falsafat agama merasa penting untuk mempelajari perkembangan paham-paham yang berbeda-beda itu.studi ini dimulai oleh falsafat agama dengan mempelajari paham kekuatan gaib yang ada dalam agama-agama primitif.

  Agama-agama primitif belum memberi nama Tuhan kepada kekuatan gaib itu.dengan kata lain kekuatan gaib itu belumlah berasal dari luar alam ini,tetapi masih berpangkal dalam alam.kekuatan gaib itu belum mempunyai arti theisme atu deisme,tetapi dinamisme dan animisme.

  “Dinamisme” berasal dari kata Yunani dynamis yang dalam bahasa indonesia disebut kekuatan.bagi manusia primitif yang tingkat kebudayaan masih rendah sekali,tiap-tiap benda yang berada di sekelilingnya bisa mempunyai kekuatan batin yang rahasianya tak diketahui,yaitu kekuatan batin yang misterius.masyarakat-masyarakat yang masih primitif memberi berbagai nama pada kekuatan batin yang misterius ini.orang melanesia menyebutnya ‘mana’ orang jepang ‘kami’ orang india ‘hari shakti’, dan sebagainya,orang pigmi di afrika ‘oudah’dan orang-orang india amerika ‘wakan’, ;orenda’ dan ‘maniti’. Dalam ilmu sejarah agama dan ilmu perbandingan agama,kekuatan batin ini biasanya disebut ‘mana’, dalam bahasa indonesia ‘tuah’.

  Mana ini mempunyai lima sifat :

1).mana mempunyai kekuatan.

2).mana yang tak dapat dilihat.

3).mana tidak mempunyai tempat yang tetap.

4).mana pada dasarnya tidak mesti baik dan pula tidak mesti buruk.

5).mana terkadang dapat dikontrol terkadang tidak dapat di kontrol.

  Dengan demikian mana adalah suatu kekuatan yang tak dapat dilihat,suatu kekuatan gaib,suatu kekuatan misterius.yang dapat di lihat hanyalah effeknya. Mana taklah ubahnya seperti tenaga yang terdapat dalam listrik.kekuatan itu tidak kelihatan,hanya effeknya yang kelihatan dalam gerakan kapal di laut,mobil di darat dan mesin di pabrik.bagi orang primitif mobil itu mempunyai mana,demikian oula kapal.

  Mana terdapat dalam segala apa yang mempunyai effek besar,efek yang menarik perhatian.kayu yang tak mau terbakar mempunyai mana.singa yang mempunyai kekuatan luar biasa mempunyai mana.manusia juga mempunyai mana.perwira yang senantiasa menang dalam peperangan,orang yang lebih dari seratus tahun umurnya,ayah yang mempunyai anak-anak yang luar biasa banyaknya,kepala yang bisa memecahkan segala masalah-masalah yang di hadapi rakyatnya,semua orang ini mempunyai mana.benda-benda serupa ini semuanya dihormati,dan orang yang dimasa hidupnya mempunyai mana,sesudah mati disembah agar mananya dapat membantu si penyembah.

  Tujuan manusia dalam agama yang mempunyai paham Dinamisme ini ialah memperoleh mana sebanyak-banyaknya, dengan memakan benda-benda yang disangka mempunyai mana atau dengan memakai fetish yang telah dipenuhi dukun atau ahli sihir dengan berbagai mana. Bertambah banyak mana seseorang bertambah terjamin keselamatannya, bertambah berkurang mana nya bertambah berbahaya kedudukan seseorang. Kehilangan mana berarti mati. Mana yang tak dapat di control dan mana yang membawa bahaya bagi hidup manusia harus di jauhi. Tak boleh didekati dan tak boleh di sentuh. Hanya dukun atau ahli sihir yang boleh mendekati dan menyentuh benda yang mempunyai mana yang berbahaya. Bagi orang biasa mana serupa itu adalah ‘Taboo’(pantang). Kalau didekati atau disentuh ia akan membawa bahaya besar. Kepala dari seorang raja dipandang mempunyai mana yang bisa berbahaya, menyentuhnya adalah Taboo. Di beberapa masyarakat primitive, memakan berbagai rupa makanan adalah taboo bagi kaum wanita dan anak-anak. Kalau di makan juga, hal itu akan membawa bahaya bagi yang memakannya.

  Kesimpulannya, agama Dinamisme mengajarkan kepada pemeluknya supaya memperoleh mana yang baik sebanyak-banyaknya dan menjauhi mana yang jahat. Masyarakat primitive belum bisa memperbedakan anatara materi dan roh, sebagaimana kita di zaman modern sekarang dapat dengan jelas memperbedakan antara apa yang di sebut materi dan apa yang di sebut roh. Tidak begitu jelas apakah mana yang mereka sebut itu selamanya berarti kekuatan gaib, ataukah terkadang berarti roh.

  Ada masyarakat primitive lain yang berpendapat bahwa semua benda, baik yang bernyawa atau tak bernyawa mempunyai roh. Paham ini di sebut “Animisme”, dari kata lain Anima yang berarti jiwa. Dalam paham masyarakat primitive ini, roh itu makan, mempunyai bentuk dan mempunyai umur. Bagi orang bantu di afrika, roh itu mesti diberi makan, sebagaimana halnya dengan manusia. Bagi penduduk pulau Andaman roh itu mempunyai kaki dan tangan yang panjang-panjang tetapi badannya kecil, pergi berburu, makan babi, menari dan bernyanyi. Bagi orang India Amerika, roh itu diwaktu mati naik kelangit sebagai awan. Roh orang India lebih hitam dari roh orang Eropa.

  Roh itu mempunyai kekuatan dan kehendak, bisa merasa senang dan menjadi marah. Kalau ia marah ia dapat membahayakan bagi hidup manusia. Oleh sebab itu keridaannya harus dicari, harus di usahakan supaya ia jangan marah, dengan memberi ia makan, mengemukakan korban kepadanya dan mengadakan pesta-pesta khusus untuk dia.

  Bagi masyarakat primitive serupa ini segala benda yang ada di dunia mempunyai roh. Gunung, laut, sungai, pohon kayu, batu, bahkan rumput mempunyai roh. Yang menarik perhatian mereka ialah roh-roh dari benda-benda yang menimbulkan perasaan dahsyat dalam diri manusia seperti danau, hutan, pohon, kayu besar, sungai dsb. Adapun benda-benda yang tidak menimbulkan perasaan dahsyat seperti rumput, batu biasa dsb. Tidak menarik perhatian.

  Sebagaimana halnya dalam agama Dinamisme, dalam agama Animisme, dukun atau tukang sihir dapat juga menarik roh-roh supaya mengambil tempat dalam fetish. Dan fetish ini bisa mempunyai bentuk apa saja, batu, kotak, gigi binatang dsb. Dan acap kali juga mempunyai bentuk patung-patung yang special di buat untuk itu. =(dari sinilah datangnya penyembah patung-patung tempat roh).

 

 

 

 

 

EKSISTENSI TUHAN DALAM WACANA FILSAFAT

Dalam wacana filsafat, perbincangan mengenai eksistensi Tuhan setidaknya di buktikan dengan mengajukan lima argument:

1.      Argumen Ontologis. Argument tersebut berusaha untuk membuktikan adanya Tuhan dan ide tentang Tuhan yang dimiliki oleh manusia. Meskipun benih-benih argument ontologis jejaknya dapat di telusuri hampir lebih dari dua ribu tahun silam pada seseorang filsuf Yunani kalsik Plato(428-348 SM) dengan teori idenya, tetapi diuraikan sekilas oleh Al-Farabi dan dipopulerkan oleh filsuf teolog Abad pertengahan dari Italia, St, Anselm, dan diikuti oleh Descartes pada awal era modern.

Menurut Anselm, setiap manusia mempunyai ide tentang Zat yang sempurna, dan itulah yang dimaksudkan dengan kata “Tuhan”. Tuhan adalah zat yang manusia tidak dapat menggambarkan zat yang lebih besar daripada-Nya, jika manusia menyelami dirinya sendiri, ia akan menemukan citra Tuhan terpantul di dalam “alam batinya sendiri”. Zat yang serupa ini mesti mempunyai wujud dalam hakikat, karena kalau ia tidak memiliki wujud dalam hakikat dan hanya mempunyai wujud dalam pikiran, zat itu tidak mempunyai sifat lebih besar dan sempurna daripada mempunyai wujud. Mempunyai wujud dalam alam hakikat adalah lebih besar dan sempurna dari pada mempunyai wujud dalam alam pikiran saja. Sesuatu yang mahabesar dan sempurna itulah Tuhan. Dan karena sesuatu yang terbesar dan paling sempurna, tidak boleh tidak, pasti mempunyai wujud, maka Tuhan mesti mempunyai wujud. Dengan demikian, Tuhan pasti ada.

2.      Argumen Kosmologis. Apabila argument ontologis benihnya berasal dari Plato, Aristoteleslah yang mencetuskan pertama kali argument kosmologis dengan gagasannya mengenai penyebab pertama (the First Cause) atau penggerakan yang tidak bergerak(the unmoved Mover). Tuhan menggerakkan alam bukan sebagai penyebab efisien, melainkan sebagai penyebab final. Aristoteles menyatakan bahwa Tuhan menggerakkan karena dicintai, dan segala sesuatu di alam semesta bergerak pula menuju penggerak yang sempurna tersebut.

Dalam tradisi filsafat islam, argument kosmologis ini dielaborasi oleh Al-Kindi yang dibungkus dengan istilah Arab, (dalil al-hudust) atau argument kebaruan. Al-Kindi mengungkapkan bahwa alam semesta ini, betapapun luasanya ialah terbatas. Karena terbatas, alam tidak mungkin tidak memiliki awal yang tidak terbatas. Oleh karena itu, tidak mungkin alam semesta brsifat azali (tak mempunyai awal). Ia pasti memiliki titik awal dalam waktu dan materi yang melekat padanya juga terbatas oleh gerak dan waktu, dalam arti mempunyai permulaan. Jika materi, gerak, dan waktu dalam alam semesta ini terbatas, berarti alam semesta ini baru (hudust). Segala yang baru, bagi Al-Kindi, pastilah dicipta (muhdast). Karenanya, mengatakan bahwa alam itu baru adalah sama dengan mengatakan bahwa alam ini dicipta. Alasannya ialah munculnya sesuatu yang terbatas mengandaikan adanya yang memunculkan dengan demikian, sesuatu yang baru seperti ala mini, karena tidak bisa terbayangkan bisa muncul sendiri, memastikan adanya sebab yang memunculkannya, dan itulah Tuhan, atau dalam Bahasa filosofisnya disebut sebab pertama.

3.      Argumen Teologis. Argument ini dieksplorasi oleh filsuf besar muslim Andalusia, Ibnu Rusyd, dengan istilah yang digagasnya, yaitu argument melalui desain (dalil al-inayah). Menurut Ibnu Rusyd, penciptaan yang menakjubkan dari segala yang ada di alam semesta, seperti penciptaan kehidupan organic, presepsi indrawi, dan pengenalan intelektual, merupakan bukti adanya Tuhan melalui bukti penciptaanyang menakjubkan, atau keserasian. Terciptanya siang dan malam, matahari dan bulan, empat musim, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan hujan, misalnya, sesuai dengan kehidupan manusia dan makhluk-makhluk lain yang berpijak pada prinsip keteraturan, atas dasar ilmu dan kebijaksanaan.

Keserasian seperti itu tidak mungkin, menurut akal, hanya merupakan suatu kebetulan, melainkan haruslah diciptakan atau dirancang oleh agen yang dengan sengaja dan bijaksana melakukannya dengan tujuan tertentu. Prinsip-prinsip keteraturan yang berada di alam semesta merupakan ciptaan Tuhan, sehingga alam semesta tersusun dengan baik dan rasional. Argument teologis tersebut juga dikembangkan oleh W.R. Matthews, teolog Inggris, William Paley, dan penulis kenamaan Inggris, Henry More.

4.      Argumen Moral. Yang dipelopori oleh filsuf ternama dari Jerman, Immanuel Kant. Argument ini bisa diuraikan dengan dua bentuk Eksposisi. Bentuk pertama ialah bentuk ketika argument disajikan sebagai inferensi logika. Dari hukum moral dan objektif, manusia mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan yang memberi hukum, atau dari adanya suara hati kecil, kesadaran diri, atau rasa bertanggung jawab, manusia mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan. Ketika seseorang merasa bertanggung jawab, malu, dan takut lantaran melanggar hati kecil, hal itu ada zat yang kepada-Nya ia bertanggung jawab, dan di hadapan-Nya ia merasa malu. Bentuk kedua sebagai kelanjutan bentuk yang pertama, menurut Kant, hal yang melandasi setiap perasaan moral dalam diri manusia itu ialah imprerantif kategoris. Sebagai perintah, imperantif kategoris bukanlah sembarangan perintah, melainkan perintah yang dimaksudkan untuk mengungkapkan suatu keharusan (sollen). Imprantif kategoris akan mengikat seseorang tanpa syarat apa pun, bentuk imprantif ini ialah, “Engkau harus begitu saja!” (Du Sollst). Perintah ini menjiwai semua etis. Misalnya, janji harus ditepati, senang atau tidak senang; barang yang dipinjam harus dikembalikan, kendati pemiliknya  sudah lupa.

5.      Argument Pengalaman religious. Argument ini dipopulerkan oleh filsuf sekaligus pujangga terkemuka asal Pakistan, Muhammad Iqbal. Menurut Iqbal, argument pengalaman relegius lebih berdasarkan intuisi ketimbang rasio. Iqbal melukiskan:

“fikiran dan realitas susungguhnya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Ini hanya mungkin terjadi kalau kita secara seksama meneliti dan menafsirkan pengalaman kita, dengan mengikuti petunjuk yang di berikan Al-Qur’an yang menganggap pengalaman di dalam dan di luar sebagai perlambangan suatu realitas yang di gambarkannya sebagai “yang pertama dan yang terakhir” “ yang terlihat dan yang tak terlihat”.

Bagi Iqbal, pengalaman relegius yang dibimbing al-Qur’an, apabila diolah sedemikian rupa, dapat mengantarkan manusia untuk mengenal yang pertama dan yang terakhir. Pengalaman religius ini merupakan hasrat filsafat rasional. Pada titik idealnya, pengalaman religius merupakan suatu pengalaman sufistik, yang dalam kajian psikologi modern dianggap sebagai puncak perkembangan rasionalitas, ketika segala prasangka dan asumsi yang masih banyak menjebak pemikiran rasional terhapuskan. Fakta inilah yang dilukiskan oleh salah seorang psikolog madzhab humanistic, Erich Fromm:

“saya harus memberi catatan sangat berlawanan dengan anggapan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. Ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. Sebagaimana dinyatakan oleh Albert Schweitzer. “pemikiran rasional yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme”.

  Hal yang menjadi penekanan dalam hal ini ialah keyakinan batin (inner conviction) bahwasanya adanya Tuhan sering didasarkan pada perasaan bahwa mereka (orang-orang yang sudah mengalami) telah memiliki sejumlah pengalaman langsung mengenai eksistensi Tuhan. Demikianlah lima argument yang sering kali digulirkan oleh para filsuf, baik muslim maupun nonmuslim untuk membuktikan eksistensi Tuhan.

                                                                        (sumber catatan, buku Filsafat agama & Filsafat Islam)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENJELASAN TAREKAT DAN TAWAJJUH

MENGENAL FILSUF MULLA SHADRA BIOGRAFI, PEMIKIRAN DAN KARYA-KARYANYA

IBNU ARABI ( Tinjauan Historis, Teologis dan Filosofis)