KEABADIAN PRIBADI ATAU HIDUP SESUDAH MATI.


  Faham keabadian mengandung beberapa arti. Keabadian bukan pendapat dalam faham kerohanian saja, tetapi juga dalam lapangan biologi. Menurut hukum “heredity” sifat-sifat mental dan fisik dari orang tua turun kepada keturunannya: mata umpamanya serupa dengan mata ibu, rambut serupa dengan rambut bapa dsb. Akal yang kuat dan berfikir menurut logika juga pindah kepada keturunan. Keabadian biologis yang serupa ini telah menjadi suatu kenyataan hidup manusia.

  Selain dari keabadian sifat-sifat spesifik ini, terdapat pula dalam lapangan biologis keabadian jenis. Jenis manusia ada dan terus menerus akan ada. Perseorangan mati, yaitu anggota jenis manusia, tetapi diganti lagi dengan anggota-anggota baru sehingga jenis manusia menjadi kekal, dan sekekal-kekalnya bagi orang yang mempercayai bahwa materi adalah kekal dan tidak akan hancur-hancur menjadi tiada. Pindah dari lapangan materi kelapangan abstrak, keabadian terdapat pula dalam lapangan pengaruh. Pengaruh orang-orang besar dalam sejarah terus menerus ada. Dalam lapangan falsafat pengaruh Plato dan Aristoteles umpamanya masih terasa sungguh pun mereka telah lama meninggalkan alam hidup ini dan sungguhpun mereka telah lama hancur menjadi debu dan seharusnya entah telah menjadi apa.

 Tetapi bukanlah ini yang dimaksud dengan keabadian dalam faham agama.yang di maksud dengan keabadian dalam agama ialah keabadian pribadi. Seseorang sungguh  badannya telah tak bernyawa lagi, bahkan tubuhnya telah hancur, kepribadiannya masih hidup. Kepribadian inilah nanti yang akan berjumpa dengan Tuhannya. Kepribadian ini disebut roh, nafs, jiwa, akal, soul dan sebagainya.

  Sebelum meninjau lebih lanjut apa yang di maksud dengan keabadian pribadi ini, perlu dipelajari terlebih dahulu : apa pendapat pengetahuan modern tentang keabadian pribadi itu. Apakah keabadian pribadi itu tidak bisa terjadi,yaitu mustahil menurut ilmu pengetahuan modern, atau apakah ilmu pengetahuan modern belum atau tidak dapat membuktikan kemustahilannya dan dengan demikian kemungkinan terwujudnya keabadian pribadi itu tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

  Menurut pengetahuan modern kepribadian berpusat pada otak manusia. Kalau manusia mati, otak berhenti berfungsi dan dengan demikian kepribadiannyapun lenyap. Tetapi hipotesa ini tidak mempunyai bukti yang dapat menyatakan kebenarannya. Tetapi sebaliknya tidak ada pula bukti bahwa hipotesa itu tidak benar. sekiranya ada bukti yang nyata, maka tak ada persoalan lagi, seperti halnya sekarang. Pendapat mengatakan bahwa kepribadian manusia mati dengan matinya manusia, belum dapat dibuktikan. Dengan kata lain bahwa kepribadian manusia akan terus hidup sesudah manusia mati adalah pula suatu kemungkinan.

   Kesimpulan inilah yang penting bagi falsafat agama. Ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan bahwa kepribadian manusia itu hancur dengan matinya manusia. Dasar inilah yang dipegang falsafat agama untuk memperkuat faham agama bahwa manusia akan terus hidup, sungguhpun badanya telah mati.

   Teori yang mengatakan bahwa kepribadian manusia akan hancur dengan matinya manusia berdasar pada pendapat bahwa otak manusia mempunyai fungsi produktif. Dengan kata lain otak manusia inilah yang memprodusir, yang mewujudkan atau yang menciptakan kepribadian manusia. Otak itulah yang menjadi sebab, dan satu-satunya sebab bagi adanya kepribadian manusia. Kalau otak ini tak ada lagi, sebab adanya kepribadian pun tak ada pula dan dengan demikian kepribadian pun tak ada pula. Jelasnya dengan matinya manusia fungsi otaknya berhenti dan kepribadian nya pun habis. Kepribadian tak dapat hidup lebih lama dari manusia.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENJELASAN TAREKAT DAN TAWAJJUH

MENGENAL FILSUF MULLA SHADRA BIOGRAFI, PEMIKIRAN DAN KARYA-KARYANYA

IBNU ARABI ( Tinjauan Historis, Teologis dan Filosofis)