Kajian Filsuf Yunani bercerita sejarah Kaum Sinis, kaum stoik, kaum Epicurean, Neoplatonis, dan Mistisisme.

 


Humanisme

Pada priode panjang sejak zaman Aristoteles menjelang akhir abad keempat SM hingga awal Abad Pertengahan sekitar 400 M. perhatikan bahwa kini kita dapat menuliskan sebelum Masehi dan Masehi, sebab agama Kristen memang merupakan salah satu satu faktor paling penting, dan juga paling misterius dalam priode itu.

 Aristoteles Meninggal pada 332 SM, ketika itu Athena telah kehilangan peran dominanya. Ini karena timmbulnya pemberontakan-pemberontakan politik akibat penaklukan Alexander Agung (356-323 SM).

 Alexander Agung adalah Raja Macedonia. Aristoteles juga berasal dari Macedonia, dan untuk beberapa lama dia, bahkan menjadi Guru Alexander Muda. Alexanderlah yang meraih kemenangan terakhir dan menentukan atas bangsa Persia. Dengan banyak penaklukannya, dia menyatukan Mesir dan dunia timur hingga India dengan peradaban Yunani.

  Ini menandai awal zaman baru dalam sejarah umat manusia. Suatu peradaban muncul dengan kebudayaan Yunani dan Bahasa Yunani memainkan peranan utama priode ini, helenisme. Istilah helenisme mengacu pada priode maupun kerajaan Yunani, yaitu Macedonia, Syria, dan Mesir.

  Sejak sekitar 50 SM, Roma lebih kuat dalam bidang militernya dan politik. Adikuasa baru itu lambat laun menaklukkan kerajaan-kerajaan Yunani, dan sejak itu kebudayaan Romawi dan Bahasa latin mendominasi mulai dari spanyol di barat hingga jauh menembus Asia.inilah awal dari priode Romawi, yang sering kita sebut zaman yunani kuno akhir. Tapi ingatlah satu hal sebelum orang-orang romawi berusaha untuk menaklukkan dunia yunani, roma itu sendiri merupakan bagian dari kebudayaan yunani. Maka, kebudayaan yunani dan filsafat yunani tetap memainkan peranan penting jauh sesudah pengaruh politik bangsa yunani berlalu.

 Agama, Filsafat, dan Pengetahuan

  Helenisme ditandai dengan fakta bahwa perbatasan antara berbagai negara dan kebudayaan menjadi terhapus. Sebelumnya bangsa yunani, romawi, mesir, babylonia, syiria, dan Persia telah menyembah dewa mereka sendiri-sendiri di dalam apa yang secara umum kita sebut “agama nasional”. Kini, kebudayaan yang berbeda-beda melebur dalam satu cerek besar si tukang sihir yang menampung gagasan-gagasan agama, politik, dan ilmu pengetahuan.

  Barangkali dapat kita sebutkan bahwa alun-alun kota digantikan dengan arena dunia. Alun-alun kota yang lama juga di penuhi dengan suara-suara, yang suatu kali menawarkan aneka barang ke pasar. Dan pada kali lain menawarkan aneka pemikiran dan gagasan. Aspek barunya adalah bahwa alun-alun kota kini dipenuhi dengan barang-barang dan gagasan-gagasan dari seluruh penjuru dunia. Suara-suara itu berdengung dalam berbagai Bahasa yang berlainan.

  Pandangan hidup Yunani kini jauh lebih tersebar daripada sebelumnya di bekas daerah budaya Yunani. Tapi sejalan dengan berlalunya waktu, dewa-dewa timur juga dipuja di semua negeri Mediterania. Rumusan-rumusan agama yang baru bermunculan sehingga dapat mengambil alih dewa-dewa dan keyakinan-keyakinan dari banyak negeri lama. Ini di namakan Sinkretisme atau perpaduan keyakinan.

  Sebelum ini, orang-orang telah merasakan keterikatan yang kuat pada bangsa dan negara-kota mereka sendiri. Tapi setelah perbatasan dihapuskan, banyak orang mulai merasakan keraguan dan ketidakpastian mengenal Filsafat hidup mereka. Zaman Yunani kuno akhir secara umum ditandai dengan keraguan agama, melarutnya kebudayaan, dan pesimisme. Dikatakan bahwa “dunia sudah tua”.

  Ciri umum pembentukan agama baru sepanjang priode Helenistik adalah muatan ajaran mengenal bagaimana umat manusia dapat terlepas dari kematian. Ajaran ini sering kali merupakan rahasia. Dengan menerima ajaran dapat menjalankan ritual-ritual tertentu. Orang yang percaya dapat mengharapkan keabadian jiwa dan kehidupan yang kekal. Suatu wawasan menyangkut hakikat sejati alam semesta dapat menjadi sama pentingnya dengan upacara agama untuk mendapatkan keselamatan.

  Filsafat juga bergerak semakin dekat ke arah “keselamatan” dan ketenangan. Wawasan filsafat kini dianggap tidak hanya memiliki nilai sendiri, ia juga harus membebaskan manusia dari pesimisme dan rasa takut akan kematian. Dengan demikian, batasan antara agama dan filsafat lambat laun hilang.

  Secara umum, filsafat Helenisme tidak begitu Orisinal. Tidak ada Plato baru atau Aristoteles baru yang muncul di panggung. Sebaliknya, ketiga filosof besar Athena itu menjadi sumber ilham bagi sejumlah aliran filsafat yang akan terkemukakan secara ringkas sebentar lagi.

  Ilmu pengetahuan helenistik pun terpengaruh oleh campuran pengetahuan berbagai kebudayaan. Kota Alexandria memainkan peranan menentukan di sini sebagai tempat pertemuan antara timur dan barat. Sementara Athena tetap merupakan pusat filsuf yang masih menjalankan ajaran-ajaran filsafat Plato dan Aristoteles, Alexandria menjadi pusat ilmu pengetahuan. Dengan perpustakaannya yang sangat besar, kota itu menjadi pusat Matematika, Astronomi, Biologi, dan ilmu pengobatan.

  Kebudayaan Helenistik juga dapat di bandingkan dengan dunia zaman sekarang. Abad ke 20 pun terpengaruh oleh peradaban yang semakin terbuka. Pada zaman kita ini, keterbukaan itu pula yang mengakibatkan timbulnya gejolak-gejolak besar dalam agama dan filsafat. Dan sebagaimana di Roma, sekitar permulaan era kriten, orang dapat menemukan agama dari Yunani, Mesir, dan agama-agama dari timur. Kini, ketika kita mendekati akhir abad 20, kita dapat menemukan di seluruh kota di Eropa berbagai Agama dari seluruh penjuru dunia.

  Sekarang, kita juga menyaksikan bagaimana percampuran agama lama dan agama baru, berbagai filsafat, dan ilmu pengetahuan dapat menjadi dasar bagi produk-produk baru yang di tawarkan di pasaran “pandangan hidup”. Sebagian besar ‘’pengetahuan baru” ini sesungguhnya merupakan sisa-sisa pemikiran lama, yang sebagian akarnya berasal dari Helenisme.

  Filsafat Helenistik selalu berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang dikemukanan oleh Socrates, Plato, dan Aristoteles. Ciri umum yang ada pada semua filsafat tersebut adalah hastrat untuk mengetahui cara terbaik bagi manusia dalam menjalani kehidupan dan kematian. Semuanya berbicara tentang etika. Dalam peradaban baru, inilah proyek filsafat yang utama. Tekanan terbesar diberikan pada upaya menemukan apakah kebahagiaan sejati itu dan bagaimana mencapainya. Kita akan mengenal empat filsafat.

1.Kaum Sinis

  Konon suatu hari, Socrates sedang berdiri menatap sebuah kedai yang menjual segala macam barang. Akhirnya dia berkata “betapa banyak benda yang tidak kuperlukan” pertanyaan ini bisa jadi merupakan motto aliran Filsafat sinis, yang didirakan oleh Antishenes di Athena sekita 400 SM. Dia pernah menjadi murid Socrates, dan sangat tertarik pada kesederhanaan.

  Kaum sinis menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak terdapat dalam kelebihan lahiriah seperti keitimewaan materi, kekuasaan politik, atau kesehatan yang baik. Kebahagiaan sejati terletak pada ketidak tergantungan pada segala sesuatu yang acak dan mengambang. Begitu berhasil di raih, ia tidak akan pernah lepas lagi.

  Kaum sinis yang paling terkenal adalah Diogenes,seorang murid Antishenes, yang konon hidup dalam sebuah tong dan tidak memiliki apapun kecuali mantel, tongkat, dan kantong roti. Kaum sinis percaya bahwa orang tidak perlu memikirkan kesehatan diri mereka, bahkan penderitaan dan kematian tidak boleh mengganggu mereka. Mereka pun tidak boleh membiarkan diri tersiksa karena memikirkan kesengsaraan orang lain. Kata sinis dan sinisme itu berarti ketidak percayaan yang mengandung cemooh pada ketulusan manusia, dan kedua istilah ini menunjukkan ketidak pekaan terhadap penderitaan orang lain alias mereka adalah cuek.

2.Kaum Stoik

  Kaum sinis membantu perkembangan aliran filsafat Stoik, yang muncul di Athena sekitar 300 SM. Pendirinya adalah Zeno, yang berasal dari syprus dan bergabung dengan kaum sinis di Athena setelah kapalnya karam.

 Nama “Stoik” berasal dari Yunani yang berarti serambi (stoa), stoikisme di kemudian hari mempunyai pengaruh besar pada kebudayaan Romawi. Seperti Heraclitus, kaum stoik percaya bahwa setiap orang adalah bagian dari satu akal atau logos yang sama. Mereka beranggapan bahwa setiap orang adalah seperti sebuah dunia Miniatur atau Mikrokosmos, yang merupakan cerminan dari Makrokosmos.

  Kaisar Romawi Marcus Aurelius (121-180 M), adalah negarawan yang aktif. Mereka mendorong berkembangnya kebudayaan dan filsafat yunani di romawi, dan salah seorang tokoh yang paling menonjol di antara mereka adalah sang orator, filosof, dan negarawan Cicero (106-43 SM). Dialah yang membentuk konsep “HUMANISME” yaitu pandangan hidup yang menempatkan individu sebagai focus utamanya. Beberapa tahun kemudian, tokoh Stoik Seneca (4-65 SM) mengatakan bahwa “bagi umat manusia manusia itu suci” ini tetap menjadi slogan Humanisme hingga sekarang. Kaum stoik menekankan bahwa semua proses alam, seperti penyakit dan kematian itu mengikuti hukum alam yang tak pernah lekang. Oleh karena itu, manusia harus belajar untuk menerima takdirnya. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Maka, tidak ada gunanya mengeluh jika takdir sudah datang mengentuk pintu. Mereka berpendapat bahwa orang juga harus menerima peristiwa-peristiwa yang membahagiakan dalam hidup tanpa gelisah.

3. Kaum Epicurean

  Socrates berusaha untuk mengetahui bagaimana manusia dapat menjalani kehidupan yang baik. Baik kaum Sinis maupun Stoik menafsirkan filosofisnya dengan menegaskan bahwa manusia harus membebaskan diri dari kemewahan materi. Socrates juga mempunyai seorang murid yang bernama Aristippus. Dia percaya bahwa “tujuan hidup adalah meraih kenikmatan indrawi setinggi mungkin, kebaikan tertinggi adalah kenikmatan”. Dan juga “kejahatan tertinggi adalah penderitaan”.

  Kaum Sinis dan Stoik percaya pada usaha untuk menahan segala sesuatu bentuk penderitaan, yang tidak sama dengan usaha untuk menghindari kesakitan. Pada sekitar 300 SM, Epicurus (341-270) mendirikan suatu aliran filsafat di Athena. Para pengikutnya dinamakan “kaum Epicurean”. Dia mengembangkan etika kenikmatan Aristippus dan menggabungkannya dengan teori Atom Democritus.

  Konon, kaum Epicurean hidup di taman. Oleh karena itu, mereka dikenal sebagai “para filosof taman” di atas pintu masuk taman digantungkan sebuah pengumuman yang berbunyi “orang asing, disini kalian akan hidup senang, di sini kenikmatan adalah kebaikan tertinggi”. Epicurus menekankan bahwa hasil-hasil yang menyenangkan dari suatu tindakan harus selalu mempertimbangkan efek samping yang mungkin ditimbulkannya.

  Epicurus juga percaya bahwa hasil yang menyenangkan dalam jangka pendek harus di tahan demi kemungkinan timbulnya kenikmatan yang lebih besar, lebih kekal, atau lebih hebat dalam jangka panjang. Namun Epicurus menekankan bahwa “kenikmatan” tidak lantas berarti kenikmatan indrawi makan coklat misalnya. Nilai-nilai seperti persahabatan dan penghargaan terhadap kesenian juga termasuk di sini. Lagi pula, untuk menikmati hidup menurut Yunani kuno diperlukan control diri, kesederhanaan, dan ketulusan. Nafsu harus di kekang dan ketentraman hati akan membantu kita menahan penderitaan.

  Kematian tidak menakutkan kita kata Epicurus. Sebab, selama kita ada, kematian tidak bersama kita. Dan ketika ia datang, kita tidak ada lagi. Jika kamu berpikir begitu tidak ada orang yang merasa khawatir akan mati. Epicurus meringkas filsafat pembebasannya dengan apa yang dinamakan empat ramuan obat :

(dewa-dewa bukan untuk di takuti. Kematian tidak perlu dikhawatirkan. Kebaikan itu mudah dicapai, ketakutan itu mudah ditanggulangi).

  Dari sudut pandang Yunani, tidak ada yang baru dalam upaya proyek-proyek filsafat jika di bandingkan dengan proyek-proyek ilmu pengobatan. Intinya adalah bahwa manusia harus membekali diri dengan “kotak obat filosofis” yang memuat keempat unsur yang telah di sebutkan tadi.

4. Neoplatonisme

  Telah dikatakan tadi bahwa Sinisme, Stoikisme, dan Epicureanisme itu semuanya berakar pada ajaran Socrates. Mereka juga memanfaatkan ajaran tokoh-tokoh sebelum Socrates seperti Hereclitus dan Democritus.

  Tokoh paling penting dalam Neoplatonisme adalah Plotinus (205-270), yang mempelajari Filsafat di Alexandria tapi kemudian menetap di roma. Menarik untuk di catat bahwa dia berasal dari Alexandria. Kota yang menjadi titik temu utama Filsafat Yunani dan Mistisisme timur selama berabad-abad.

Ingatlah doktrin Plato tentang ide, dan cara dia membedakan antara dunia ide dan dunia indra. Ini berarti menetapkan perbedaan tajam antara jiwa dan raga. Oleh karena itu, manusia menjadi makhluk ganda: raga kita terdiri dari tanah dan debu seperti semua yang lain di dunia indera, tapi kita juga memiliki jiwa yang kekal. Ini dipercaya kebanyakan orang Yunani jauh sebelum Plato. Plotinus juga sudah mengenal gagasan yang sama dari Asia.

  Plotinus percaya bahwa dunia terentang antara dua kutub di ujung yang satu adalah cahaya Ilahi yang di namakan yang Esa. Kadang-kadang dia menyebutnya Tuhan. Ujung yang satunya lagi adalah kegelapan mutlak, yang tidak menerima cahaya dari yang Esa. Tapi maksud Plotinus adalah bahwa kegelapan ini sesungguhnya tidak ada, ia hanyalah ketiadaan cahaya dengan kata lain, ia tidak ada. Yang ada hanyalah Tuhan, atau yang Esa, tapi sebagaimana suatu cahaya semakin lama semakin kecil dan akhirnya lenyap, di suatu tempat ada suatu titik yang di dalamnya cahaya Ilahi tidak dapat sampai.

Menurut Plotinus, jiwa disinari oleh cahaya dari yang Esa, sementara materi adalah kegelapan yang tidak mempunyai keberadaan yang nyata. Tapi bentuk-bentuk di ala mini mendapatkan sedikit cahaya dari yang Esa.

5. Mistisisme

  Pengalaman mistik adalah pengalaman menyatu dengan Tuhan atau “jiwa kosmik”, banyak agama menekankan keterpisahan antara Tuhan dan ciptaan, tapi ahli mistik tidak menemui pemisah semacam itu. Mereka mengalami rasa “penyatuan dengan Tuhan”.

  Gagasan pokoknya adalah bahwa apa yang biasanya kita sebut “Aku” bukanlah “Aku” yang sebenarnya. Secara sekilas kita dapat mengalami indenfikasi dengan “Aku” yang lebih besar. Sebagian ahli mistik menyebutnya Tuhan, yang yang lain menyebutnya ruh kosmik, Alam, atau semesta raya. Ketika penyatuan itu terjadi, ahli mistik merasakan bahwa dia “kehilangan dirinya” dia lenyap kedalam diri diri Tuhan atau hilang di dalam diri Tuhan sebagaimana setitik air kehilangan dirinya ketika menyatu dengan samudra. Seorang ahli mistik pernah mengungkapkan begini “jika aku mengadu, Tuhan tiada, jika Tuhan mengadu akupun tiada”. Ahli mistik Kristen Agelus Selesius (1624-1677) mengemukakannya dengan cara lain: “setiap tetes air menjadi lautan jika ia mengalir menuju samudera, sebagaimana akhirnya jiwa itu naik dan menjadi Tuhan”.

                                                                                                         (sumber catatan Dunia Shopie)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENJELASAN TAREKAT DAN TAWAJJUH

MENGENAL FILSUF MULLA SHADRA BIOGRAFI, PEMIKIRAN DAN KARYA-KARYANYA

IBNU ARABI ( Tinjauan Historis, Teologis dan Filosofis)